Minggu lalu merupakan minggu yang cukup berharga bagi saya. Sama seperti di tahun-tahun sebelumnya, di minggu kedua pada bulan Desember, MarkPlus, sebuah perusahaan konsultasi marketing mengadakan konferensi marketing terbesar se Asia bahkan mungkin terbesar di dunia dengan menghadirkan lebih dari 5,000 peserta.
Pada umumnya sehari sebelum dimulainya konferensi, MarkPlus mengadakan acara Kellog Innovation Network (KIN) yang khusus dihadiri oleh tamu undangan terbatas. Alangkah bahagianya saya sebagai salah satu tamu undangan di dalam acara KIN tersebut.
Ada tiga hal tujuan seseorang ingin mengikuti seminar, konferensi ataupun pelatihan diantaranya: materinya menarik dan dibutuhkan, pembicaranya cukup digemari, dan ingin membina relasi atau networking dengan orang lain. Dalam acara KIN saya cukup bisa mendapatkan ketiganya. Materi cukup menarik dengan tema Growth For Good, bagaimana perpaduan antara tehnologi Machine to Machine (M2M) dan manusia Human to Human (H2H) guna menunjang perusahaan untuk bertumbuh tidak hanya mencari keuntungan semata tapi harus memikirkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Kedua, pembicaranya pun cukup menarik, mereka berasal dari beberapa negara dengan pengalaman yang cukup mumpuni di industrinya. Siapa yang tidak mau mendengar sharing dari GoJek, Uber, Garuda Indonesia, BCA ataupun pengalaman perusahaan startup lainnya? Dan hal yang ketiga, sudah tentu saya bisa bertukar kartu nama dengan tamu undangan lainnya guna menjalin relasi bahkan peluang untuk saling bekerja sama.
Lain Dari Yang Lain
Dari sekian banyak pembicara, ada satu pembicara yang membuat saya mengacungkan kedua jempol saya. Orangnya cukup sederhana, ramah, murah senyum bahkan beliau terlihat sebagai orang pemalu dan pendiam. Orang yang berasal dari Solo tersebut bernama Gibran Rakabuming Raka, dialah anak dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Gibran tidak bercerita tentang usaha keluarganya ataupun tidak berbicara sombong bagaimana kemenangan bapaknya sebagai Presiden RI, tapi Gibran justru berbicara mengenai usahanya yang dimulai dari kecil sampai besar saat ini. Gibran pun tidak mendompleng kebesaran nama bapaknya, tapi justru dia bekerja dengan tekun dan memiliki kreativitas dalam mengembangkan usaha kulinernya.
Walaupun menjadi anak presiden, Gibran benar-benar berbeda. Tampil dengan baju lengan pendek dan terlihat tanpa pengawalan dari kepresidenan itulah yang membuat saya terheran-heran. Kenapa anak dari orang nomor satu di Indonesia bisa sedemikian sederhananya?

Belum selesai keheranan saya, besoknya saya membaca berita di media sosial, salah satu seorang motivator, Arvan Pradiansyah, bertemu dengan ibu Negara, Ibu Iriana dalam penerbangan dari Solo ke Jakarta. Beliau pun merasa tidak enak saat beliau duduk di kelas bisnis sedangkan Ibu Iriana malah duduk di kelas ekonomi. Bapak Arvan mengatakan tidak ada kebiasaan protokoler yang terjadi di penerbangan tersebut, penumpang lain pun tidak merasa terganggu dengan kehadiran ibu Negara di dalam pesawat. Bahkan menurutnya memang tidak ada pengawalan yang ketat untuk menjaga Ibu Iriana.
WOW! Rasanya kata yang ingin saya pakai dalam melukiskan bagaimana kerendahan hati seorang pemimipn kita; pemimpin yang mengayomi masyarakat.
Kesederhanaan, kerendah hatian serta siap melayani sesama merupakan tiga hal penting bagi seseorang apabila ingin menjadi pimpinan yang baik. Sama seperti tema KIN, Growth For Good, seorang pemimpin bisa bertahan apabila hatinya mencintai, memperhatikan dan mendengarkan kepentingan orang banyak.
Sekali lagi saya salut untuk pemimpin kita Bapak Joko Widodo dan terima kasih untuk MarkPlus yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk bisa berjabat tangan dengan Gibran Rakabuming Raka.

Setuju Pak Sam….p.Jokowi mendidik keluarga kecilnya dengan kerendahan hati yang ber-integritas tinggi. Semoga beliau sukses juga mendidik bangsa ini dengan segenap keragamannya menjadi bangsa yang ber-integritas, ber-karakter dan berdaya juang tinggi untuk INDONESIA RAYA
Revolusi mental memang harus dimulai dari seorang pimpinan ya bu
orang solo memang keren pak Sam :)…glad to read about you bro. ikut bangga 🙂
Ada 2 orang Solo, yang membuat saya angkat topi: Pak Jokowi dan teman saya sendiri Hanny Setiawan.