No Discount, No Sales

No pain, No Gain = Tidak ada perjuangan, tidak ada hasil. Istilah yang sering kita dengar, apabila kita ingin mencapai sesuatu diperlukan suatu perjuangan dan kerja keras.

Judul di atas sebenarnya men-diskiriminasikan peran orang marketing. Apakah karena ada diskon atau hadiah, konsumen baru akan membeli produk anda? Apakah mereka hanya menunggu untuk membeli saat ada promo? Ataukah mereka tidak ada loyal ke suatu merek karena merek tersebut tidak bisa memberikan harga yang lebih murah?

Memang sifat manusia tidak bisa dipungkiri kalau ada promo terlebih yang menyangkut diskon, hadiah, bahkan sekarang dikenal dengan promo cash back, hasrat untuk membeli menjadi lebih besar. Belum lagi didukung iming-iming marketing yang semakin membuat heboh dengan kata-kata “penawaran terbatas”, “hanya untuk periode tertentu”, “70% diskon” serta banyak istilah lainnya yang menjadikan kita lebih konsumtif.

Online Shopping pun tidak ketinggalan memanfaatkan momen diskon yang kita kenal dengan Harbolnas, 11-11, 12-12. Berbagai promo diskon sampai membeli Rp 1 pun ditawarkan disana. Apa hasilnya? Dengan promo ini, transaksi terjadi bisa mencapai ratusan milyar. Cukup efektif tapi saya pun belum tahu apakah bisa memberikan hasil bagi pemilik produk dari segi keuntungan.

Maka pemilik produk harus hati-hati, jangan sampai strategi pemasaran hanya bertumpu pada hadiah, diskon atau potongan harga saja tapi sebaiknya konsumen membeli suatu produk karena memang sesuai dengan kebutuhannya, dan buatlah mereka loyal akan merek anda. Nah inilah yang menjadi peran marketer bagaimana mengkombinasi promo dan  program loyalitas berjalan secara beriringan. Boleh saja di saat tertentu,  momen festive seperti di bulan Desember ini, dimanfaatkan dengan program diskon. Karena menjelang tahun baru, saatnya orang-orang berbelanja apakah untuk kebutuhan pribadi atau bertujuan membagi-bagi hadiah. Saat ini pun, pada umumnya dipakai oleh pemilik merek untuk menghabiskan produknya;  karena di tahun baru para marketer pun siap meluncurkan produk baru lainnya.

Tapi sekali lagi saya ingatkan, jangan terjebak dengan perang diskon yang dilakukan berkali-kali.

HAPPY NEW YEAR 2020! Semoga di tahun 2020, merek produk anda menjadi pilihan di benak hati konsumen. Salam Sukses!

Millennial is Everything

Siapa yang tidak kenal generasi milenial? Generasi yang terlahir di pertengahan tahun 1980 sampai awal tahun 2000 cukup memainkan peranan yang cukup penting saat ini. Dengan semakin maraknya internet dan didukung dengan alat komunikasi yang berkuatan 4 G, membuat kaum milenial bisa merubah cara dan pola pikir masyarakat. Banyak industri baru bermunculan sejak hadirnya generasi yang biasa juga disebut generasi langgas.

Tak hanya sekedar merubah pola pikir, bahkan setelah 1 bulan membentuk kabinet kerja dengan para menterinya,  Pak Jokowi mengumumkan adanya staf khusus presiden yang terdiri dari 7 kaum milenial. Menurut bapak Indonesia 1 ini, staf khusus milenial diperlukan untuk memberi masukan ide-ide kreatif ke pemerintah dan menjadi corong ke kaum muda terhadap idelogi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang sudah semakin memudar.

50 Tahun Mempercantik Indonesia

Tak ketinggalan, virus milenial pun dirasakan oleh Martha Tilaar Group (MTG), yang pada tahun depan akan memasuki usia emas nya yakni berusia 50 tahun. Sama seperti Pak presiden, walaupun sudah berdiri 1/2 abad, MTG merasa perlu ada unsur milenial dalam mengembangkan usahanya guna mempercantik Indonesia.

Pada peluncuran logo 50 tahun, MTG pun membuat suasana yang biasanya cukup serius menjadi ke unsur lebih milenial agar bisa beradaptasi dengan karakter anak muda jaman now; sehingga karyawan yang  lahir sebelum tahun 80 an harus bisa bekerja mengikuti generasi milenial dan bisa merasakan bagaimana generasi tersebut melakukan aktivitas kesehariannya. Dan bagi karyawan milenial pun bisa turut bangga bekerja di perusahaan yang sudah berusia 50 tahun, tapi mau mengikuti perkembangan jaman sekarang.

Nah intinya disini, walau semakin berumur, baik perusahaan atau pribadi seseorang harus bisa mengikuti generasi saat ini,  demikian sebaliknya bagaimana karakter anak jaman now bisa masuk  kedalam lingkungan pendahulunya. Sama-sama untuk saling mengerti dan dimengerti.

Selamat memasuki usia ke 50 tahun dengan berjiwa Milenial!

Tambah Usia, Makin Bermakna

Merdeka atau Mati! Itulah kata-kata yang diucapkan oleh para pahlawan bangsa yang ingin melepaskan diri dari penjajahan.

Arti merdeka jaman sekarang bukan berarti bebas dari penjajahan dengan menggunakan senjata, tapi harus merdeka dari penjajahan korupsi dan SARA, namun disayangkan negara yang sudah berumur 74 tahun masih terbelenggu dengan adanya isu pecah belah atau egoisme politik yang ingin berkuasa.

Merek Lama

Indonesia berumur 74 tahun, saya ingin kaitkan masalah umur dengan merek dari sebuah produk. Setelah jaman revolusi industri banyak bermunculan produk yang dicap dengan merek dagang (brand). Ada yang masih bertahan sampai sekarang, dan banyak juga yang sudah tidak eksis. Ada yang bisa bertahan sampai 100 tahun namun ada juga yang bertahan hanya sampai 1000 hari.

Pertanyaannya bagaimana merek jaman dulu masih bisa bertahan sampai sekarang? Terlebih ada perbedaan generasi dari masa ke masa; jaman dulu kita kenal dengan sebutan generasi baby boomers, generasi X, dan terus berganti generasi demi generasi, yang akhirnya anak yang baru lahir di tahun 2010 dikenal dengan sebutan generasi Alpha.

Berkaca pada merek yang berdiri jaman generasi baby boomers, apakah merek tersebut sudah tidak relevan dengan generasi milenial yang ada saat ini? Benarkah merek yang sudah eksis lebih dulu tidak bisa bersaing dengan merek baru yang lebih pas dengan karakter generasi sekarang? Mengapa saya katakan demikian dikarenakan saya pernah dengar, banyak anak jaman now kalau ditawari sebuah merek yang lahir sebelum jaman mereka lahir,  jawabannya “itu produk emak gue”, “ah produknya kuno”, “ini sih bukan gue banget”.

Kenyataannya, banyak merek lama yang masih bisa bertahan sampai sekarang apabila ditangani dengan benar dan mengikuti perkembangan jaman. Saya ambil kasus lain di luar produk; contohnya bidang perfilman, di tahun 80 an mungkin kita kenal film Warkop DKI, siapa anak milenial kenal dengan Dono, Kasino, Indro? Apakah lawakan mereka hanya bisa menghibur orang-orang dulu saja? Namun apa yang terjadi?  Film Warkop DKI kembali ditayangkan dengan menyesuaikan pemonton jaman now, maka keluarlah film Warkop DKI Reborn dan tidak tangung-tanggung jumlah penonton nya mengalahkan film-film yang notabene baru diluncurkan di jaman milenial; selain Warkop masih ada beberapa film jadul (jaman dulu) lainnya semakin semarak menghiasi layar bioskop beberapa tahun terakhir ini.

Jadi para pemilik merek, jangan takut dengan perubahan perilaku konsumen saat ini; walaupun merek muncul di generasi baby boomers, kita harus tetap optimis membuat merek untuk tetap bertahan. Bagaimana sebuah merek bisa cepat beradaptasi dengan keadaan pasar, menyesuaikan dengan keinginan konsumen, jangan pernah terlambat melakukan perubahan dan selalu mempertahankan pada target konsumen utama anda menjadi kunci dalam mempertahankan sebuah merek.

Demikian dengan negara kita. Indonesia yang boleh dibilang sebagai nama merek suatu negara, harus bisa memperbaiki diri, bukan berarti umur 74 tahun semakin menjadi melambat, semakin tua, sulit berubah tetapi harusnya sudah semakin mapan dalam menghadapi tantangan dari negara lain.

Selamat Ulang Tahun Indonesia

Salam Merdeka!

Wow Effect

Perhitungan tambah dan kurang merupakan dasar dalam ilmu matematika. Apalagi penjumlahan antara satu angka dengan satu angka pastilah lebih mudah. Namun bisa terjadi perhitungan yang sederhana apabila dilihat dengan sudut pandang yang beda, hasil nya mungkin tidak sesederhana yang kita pikirkan. Sama seperti artikel saya bulan Juni yang lalu, Simple but not easy,  rumus sederhana matematika apabila diaplikasikan dalam dunia kehidupan menjadi sulit dijalankan.

Beda perhitungan

Kalau ilmu matematika jawaban nya sudah pasti 1+1 =2, 2+2= 4. Mudah pastinya.

Pemikiran orang kreatif penjumlahan sebuah angka bisa menghasilkan sesuatu yang tidak pasti; bisa saja 1+1 menjadi 11 dikarenakan kreativitas yang diciptakan atau mungkin gambar ilustrasi yang bisa mencerminkan angka 11

Nah bagaimana dengan dunia usaha? Pada umumnya kita mengharapkan dalam sebuah penjumlahan bisa menghasilkan yang lebih baik, lebih banyak, lebih besar dari sebelumnya. Namun demikian, secara realita penjumlahan bisa bukan nya lebih besar atau lebih baik, tapi malahan kebalikannya.

Saya ambil contoh dengan menambah orang, seharusnya bisa menghasilkan output yang lebih baik, atau secara produktivitas bisa bertambah; secara kenyataan bisa tidak seperti yang diharapkan, output jadi tidak lebih baik ataupun produktivitas semakin turun.

Contoh kedua dalam mengeluarkan sebuah produk baru. Seharusnya dengan bertambah nya produk baru secara total penjualan bisa naik karena adanya produk baru pada umumnya bisa meningkatkan penjualan karena baik produk lama maupun produk baru bisa bersama-sama bertumbuh, atau kenaikan penjualan produk baru bisa lebih tinggi dari penurunan produk lama sehingga secara total masih bisa bertumbuh.

Namun perlu di waspadai, jangan sampai produk baru  tidak meningkatkan penjualan karena mungkin ada duplikasi dengan produk yang lama, sehingga secara total penjualan tidak berdampak. Dengan adanya produk baru diharapkan seperti teori orang kreatifitas 1+1=11, atau minimal bisa seperti formula matematika 1+1=2, dimana yang dulu bisa jualan 1 sekarang jadi bisa menjadi 2.  Jangan sampai ada formula baru yang menghasilkan 1+1= 1.

Buatlah sesuatu yang WOW!

 

 

Dirgahayu Produk Indonesia

Agustus dikenal sebagai bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan tahun ini terasa berarti karena setelah 56 tahun Indonesia mengadakan Asian Games tahun 1962, tahun ini di usia nya ke 73, Indonesia kembali terpilih menjadi tuan rumah Asian Games ke 18.

Brand Lokal Indonesia

Kebanggan menjadi lebih bermakna, seiring nya Indonesia menjadi tuan rumah. Sari Ayu Martha Tilaar sebagai produk lokal juga terpilih menjadi official make up di acara pembukaan dan penutupan Asian Games dengan merias lebih kurang 5,000 orang pengisi acara.

Perjuangan untuk ditunjuk sebagai offical make up tidaklah mudah, banyak produsen lain baik dari luar maupun dalam negeri ikut berlomba untuk terpilih menjadi produk kecantikan resmi di Asian Games.

Berkat konsistensi Sariayu dalam mengembangkan inovasi produk, menjaga kualitas nya,  serta selalu berkonsisten dalam mengusung budaya dan alam Indonesia, maka akhirnya pihak penyelenggara (INASGOC) dan tim EO yang memiliki pengalaman dalam menyelenggarakan olimpiade jatuh pilihannya pada Sariayu yang dipercaya  untuk merias pengisi acara dalam pesta olah raga se Asia.

Hari Kemerdekaan RI sangat kami rasakan juga menjadi Hari Kemerdekaan produk lokal yang bisa bersaing dengan produk luar negeri.

Dirgahayu Indonesia! Dirgahayu Produk Lokal! Dirgahayu Sariayu Martha Tilaar

Collaboration 4.0

Mungkin dalam beberapa waktu belakangan , kita sering mendengar marketing 4.0 yang dicetuskan oleh Bapak Hermawan Kartajaya. Lalu dari Bapak Airlangga Hartarto dikenalkan dengan industri 4.0. Pada prinsipnya istilah 4.0 diciptakan karena perlu adanya kombinasi antara unsur humanis dan tehnologi dalam menjalankan roda usaha apabila ingin berkompetisi.

Beberapa tahun yang lalu, Ibu Martha Tilaar pernah menjadi salah satu pembiara di dalam acara World Islamic Economy Forum (WIEF) di Kazaktan; beliau menceritakan perlunya 3 C dalam persaingan ekonomi sekarang, yakni Connect, Collaborate and to Compete.

Pada kali ini saya ingin membahas 1 C yakni Collaborate (kolaborasi). Dengan persaingan semakin ketat, belum lagi perubahan tehnologi yang mengubah perilaku manusia membuat kita memang harus berkolaborasi untuk saling melengkapi. Saya ingin meng-copy istilah 4.0 denga menyebutnya sebagai Collaboration 4.0. Kenapa saya ingin menyebut seperti itu? Pada umumnya suatu kolaborasi dilakukan oleh industri atau perusahaan yang saling berkaitan. Namun karena adanya ilmu jaman now yang mengaitkan unsur tehnologi dan pendekatan ke arah humanis maka tidak ada salahnya apabila memakai kata Collaboration 4.0. Continue reading

Branding Still Powerful

Pernah satu kali saya ke warung ingin membeli air mineral. Lalu saya katakan, “Pak ada air mineral?” Lalu si pemilik mengatakan “tidak ada”, padahal saya lihat di sana ada Aqua salah satu merek terkenal air mineral. Lalu saya ganti pertanyaan “Pak saya bisa membeli Aqua?” Langsung pemilik warung memberikan Aqua nya dengan mengatakan “4,000 rupiah”

Dalam pengalaman di atas, saya terbisit dalam pikiran, sebuah merek bisa mengubah pandangan orang. Apakah semua air mineral sama identik dengan satu merek saja?

Tahap pertama dalam menjual sesuatu kita boleh sebut sebuah produk, lalu pada umumnya kita berikan nama yang sering kita kenal dengan merek atau brand. Nah inti dari penciptaan sebuah produk atau jasa, bagaimana merek atau brand tersebut bisa menjadi  sebuah hal yang tertancap dalam pikiran orang sama seperti pemilik warung di atas. Itulah yang kita sebut sebuah branding.

Amerika Jagonya

Kalau bicara mengenai masalah branding, rasanya tidak bisa dipungkiri negara paman Sam, Amerika Serikat adalah jagonya.

Belum lama ini saya sempat berlibur ke Shanghai, terus terang tujuan kesana ingin melihat Disney Shanghai dan kedai Starbucks terbesar di dunia. Disini saya lihat hebatnya sebuah merek bisa membuat suatu yang ter….(luas, besar, banyak, dan ter…lainnya) di bukan negara asalnya tapi di negeri orang.

Membuat suatu produk merupakan hal yang baik namun janganlah menjadikan produk tersebut menjadi produk komoditi, kita perlu ciptakan nama merek buat produk tersebut sehingga bisa memiliki nilai, dan yang terutama jadikanlah merek menjadi sebuah branding yang tertancap di benak konsumen.

When Innovation and A Need Meet

Melanjutkan artikel saya terdahulu mengenai cara menghadapi VUCA yakni  dengan cara FUCA (Focus, Understanding problem and market needs, Collaboration dan Act fast). Dalam tulisan kali ini saya ingin membahas mengenai Understanding market needs.

Salah satu strategi di dalam perusahaan dalam menghadapi persaingan adalah selalu berinovasi. Apapun bentuk inovasinya bisa dalam menciptakan produk, mengurangi biaya, memperbaiki sistem kerja ataupun meningkatkan kualitas kerja orang. Itu semua bisa kita sebut sebuah inovasi.

Inovasi yang sederhana, tapi sesuai kebutuhan

Continue reading