Tidak dapat dipungkiri sebuah produk untuk dikenal oleh konsumennya perlu dikenalkan melalui promosi. Promosi nya pun bisa berbagai cara bisa melalui aktivasi di toko dengan membagikan brosur, sampling, potongan harga ataupun pemberian hadiah. Adapun promosi melalui media sosial yang saat ini cukup popular di kalangan Netizen. Pasti masih banyak kegiatan lain untuk memperkenalkan sebuah produk.
Menurut survei, masih banyak perusahaan yang melakukan promosi melalui iklan apakah itu melalui media cetak, radio ataupun televisi. Karena biayanya relatif lebih kecil untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Dan pada umumnya iklan seperti ini cukup efektif, asalkan sesuai dengan target konsumen yang hendak disasar.
Sebuah iklan pada umumnya memberikan informasi mengenai produknya secara jelas apakah itu dari segi harga, kemasan maupun benefit. Benefit disini bisa dilihat dari fungsi (Functional Benefit) maupun emosional (Emotional Benefit).
Kalau berbicara masalah benefit secara fungsional harusnya merupakan keharusan atau “kudu” dilakukan di setiap produk. Nah di jaman sekarang, setiap produk harus bisa memberikan fungsi emosional kepada konsumennya.
Emotional Campaign
Benefit secara emosional pada umumnya harus dikomunikasikan secara emosional juga. Bagaimana iklan tersebut memberikan rasa emosional terhadap konsumen.
Saya melihat ada 3 hal yang bisa kita sebut Emotional Campaign:
- 1. Head to Head Campaign
Kita ambil contoh persaingan antara 2 minuman bersoda asal negeri Paman Sam antara Pepsi dan Coca Cola, kedua merek tersebut selalu membandingkan kelebihannya dan terkadang secara jelas menjatuhkan satu dengan yang lainnya.
- 2. Ethical Campaign
Iklan yang membandingkan antara produknya dengan produk kompetitor secara halus, tidak mencantumkan atau menggambarkan produk kompetitor. Walaupun secara orang awam tahu maksud iklan tersebut yang bertujuan menjatuhkan produk kompetitor. Saya mengambil contoh iklan obat nyamuk Hit yang tidak secara specifik membandingkan secara langsung dengan produk lain.
- 3. Unethical Campaign
Inilah yang membuat masyarakat Indonesia marah pada iklan pembersih di Malaysia. Secara jelas menjatuhkan martabat Indonesia dengan cara mengejek para pekerja Indonesia yang ada di Malaysia.
Mungkin bagi konsumen Malaysia iklan tersebut bisa memberikan emosional tersendiri, tapi tidak dengan cara menjelekkan sebuah negara. Hal ini berbeda dengan contoh iklan seperti hal nya Pepsi dan Coca Cola yang bersaing secara produk dengan produk. Dalam hal iklan pembersih di Malaysia, sebuah produk tidak dikaitkan dengan produk melainkan dikaitkan secara segi kemanusian.
Semoga pemerintah Malaysia bisa menarik iklan yang tidak memiliki kode etik tersebut. Karena hubungan antara Malaysia dan Indonesia semakin hari semakin memanas, apabila tidak diselesaikan secara tuntas.
Terlepas dari hubungan kedua negara, sebagai marketer, pesan emosional memang perlu dilakukan untuk mendapatkan hati di benak konsumen. Namun harus dilakukan dengan melihat kode etik. Lakukanlah iklan anda secara elegan tapi bisa memberikan unsur emosionalnya.



