Time is Money

18 Jam Yang Bermakna

Naik kereta api tut tut tut, siapa hendak turut……ke Bandung Surabaya……

Lagu Naik Kereta selalu teringat apabila saya pergi naik kereta api. Kemarin, saya ada acara di Purwokerto kebetulan saya berangkat naik kereta api jurusan Cilacap dan melewati kota Purwokerto; kota yang selalu membuat saya suka salah pada saat masih duduk di bangku SD karena tertukar dengan kota Purwakarta.

Cukup senang bisa naik kereta api ke Purwokerto. Perubahan banyak terjadi di dalam kereta api mulai dari kebersihan, pelayanan dan tepat waktu membuat suasana menjadi lebih berkesan. Selain di dalam kereta api itu sendiri, stasiun-stasiun kereta api tampak terlihat lebih bersih dan rapi ( sempat berhenti di stasiun Cirebon). Bahkan gerai kopi internasional Starbucks pun sudah berkibar di stasiun Gambir. Yang mana hal itu semua mungkin tidak terlihat 2-3 tahun lalu.

4 in 1

Berangkat pukul 6:30 pagi dari stasiun Gambir sampai di Purwokerto tepat jam 11:30 siang. Kurang lebih memakan waktu sekitar 5 jam sampai tempat tujuan. Sampai di sana, waktu terus berputar; saya harus menyelesaikan tugas-tugas saya lebih kurang dalam waktu 8 jam, karena saya harus sudah kembali lagi ke Jakarta pukul 7:30 malam. 4 kegiatan dalam waktu 8 jam?? Dan di tempat yang berbeda-beda?? Kalau di Jakarta, rasanya mustahil. Tapi tidak di Purwokerto, selain kotanya tidak besar, kemacetan pun tidak terlihat disana. Tepat pukul 7 malam, saya bisa menyelesaikan ke 4 tugas saya. Puas rasanya, pekerjaan yang cukup efektif.

Berita Ironis

Kalau di kota-kota besar mungkin cukup sulit menyelesaikan beberapa kegiatan semua, terlebih dikarenakan kepadatan lalu lintas yang ada.

Namun yang paling membuat saya  sedih pada saat membaca berita di surat kabar atau mendengar di media elektronik diberitakan mengenai Bandara Internasional Soekarno Hatta. Bandara yang menjadi kebanggan kita sudah melebihi kapasitas yang ada. Bandara internasional kita tidak memiliki fasilitas yang memadai.

Banyak penerbangan merasa dirugikan dikarenakan keterlambatan dalam penerbangan maupun kedatangan. Tidak hanya maskapai penerbangan yang dirugikan, penumpang pun pastilah merasakan hal yang sama. Peluang usaha atau transaksi miliar rupiah pun bisa terlambat terlaksana; ini bisa menyebabkan kerugian dalam jumlah yang tergolong tidak kecil. Belum selesai keruwetan di udara, pada saat mendarat atau perjalanan menuju bandara pun bisa membuat pusing kepala; kemacetan dan keruwetan lalu lintas selalu menghiasi kota Jakarta.

Sungguh ironis memang bandara internasional yang menjadi pintu gerbang utama untuk masuk ke Indonesia memilki sejumlah problema. Sangat disayangkan, negara kita suka terlambat dalam menyikapi perubahan yang ada. Dengan semakin stabilnya perekonomian di suatu negara, seyogyanya pemerintah sudah memikirkan jauh-jauh hari faktor penunjang nya mulai dari transportasi, infrastruktur serta sumber daya manusia nya.

Seandainya pemerintah bisa sedikit menyelesaikan masalah-masalah di atas, niscaya pekerjaan maupun roda perekonomian bisa berjalan lebih efektif dan efisien.  Bahkan mungkin pertumbuhan ekonomi di Indonesia bisa melebihi China (saat ini Indonesia masih 1 peringkat di bawah China).

Itulah harapan kita semua, harapan untuk menjadi lebih baik, lebih produktif dan lebih terencana.

Tulisan ini saya buat dalam perjalanan pulang ke Jakarta, karena saya senang dan puas hari ini. Kurang dari 24 jam, tepatnya 18 jam saya sudah bisa kembali lagi ke Jakarta dengan membawa misi pekerjaan yang telah selesai. Dan berandai-andai, kalau hal ini bisa terlaksana di tengah keruwetan kota Jakarta.

Wow, tak terasa sudah jam 1 pagi, menurut jadwal kereta akan tiba di Jakarta pukul 1:15 pagi. Saya harus segera mengakhiri tulisan singkat mengenai perjalanan saya ke Purwokerto. Terasa kereta semakin melambat, menandakan sebentar lagi sampai tempat tujuan.

Selamat beristirahat teman-teman. Zzzzzz……….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *