Selama 40 hari umat Kristiani menjalani masa pantang dan puasa guna menyambut kebangkitan Nabi Isa Almasih. Pantang dan puasa merupakan suatu perwujudan umat Kristiani dalam mengenang apa yang dialami oleh Nabi Isa pada saat berpuasa selama 40 hari dengan menahan rasa lapar, hawa nafsu dan godaan dari setan. Masa pantang dan puasa diawali dengan Hari Rabu Abu.
Apabila dibandingkan dengan umat Islam, pantang dan puasa umat Kristiani tidaklah seberat yang dijalankan umat Islam. Dalam masa pantang dan puasa, umat Kristiani hanya melakukan dua kali puasa pada saat Rabu Abu dan Jumat Agung (Kematian Isa Almasih); dan puasanya pun bisa makan kenyang satu kali. Selebihnya di hari Jumat, pada umumnya hanya pantang terhadap makanan atau kesukaan kita saja. Seperti tidak makan daging, merokok atau pantang jajan.
Setelah 40 hari, maka minggu ini merupakan puncak perayaan dari kebangkitan Nabi Isa Almasih yang kita kenal dengan Pekan Suci; dimulai dari Hari Minggu Palma, saat dimana Nabi Isa dielu-elukan oleh umatNya, Kamis Putih merupakan perjamuan terakhir dengan para muridNya sebelum Nabi Isa wafat. Dan pada hari Jumat Agung merupakan hari wafatnya Nabi Isa Almasih yang wafat dipaku pada kayu salib.
Dalam perjalanan ke Bukit Golgota, tempat dimana Nabi Isa disalibkan, Nabi Isa sempat jatuh tiga kali. Namun berkat kecintaanNya pada umat manusia, Nabi Isa bisa terus melanjutkan perjalananNya sampai mati di kayu salib. Pada hari ketiga Nabi Isa bangkit dari kematianNya yang kita kenal dengan Hari Raya Paskah.
Bagaimana Dengan Kita?
Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin dari kita memiliki peristiwa sama seperti apa yang dialami oleh Nabi Isa pada saat berpuasa dan digoda setan. Kita pun pasti pernah ingin marah, kalah akan hawa nafsu dan emosi. Tapi makna yang kita dapatkan, bagaimana kita bisa lebih mengendalikan diri dalam menghadapi suatu masalah.
Segala masalah seharusnya bisa diselesaikan dengan tindakan rasional bukannya tindakan yang emosional atau janganlah diselesaikan dengan cara marah-marah. Dalam perjalanan kehidupan, kita perlu menahan emosi dan mampu mengendalikan dari hawa nafsu kemarahan. Tapi harus tetap bersikap dan bertindak tegas apabila ada hal yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Hal yang kedua, mungkin kita pernah mengalami kegagalan atau jatuh dalam usaha yang kita lakukan. Dengan peristiwa jatuhnya Nabi Isa sebanyak tiga kali ke bukit Golgota, kita pun diingatkan untuk selalu bisa bangkit dari kegagalan dan jangan mudah menyerah guna mencapai suatu target yang kita tuju.
Menahan emosi, bertindak tegas dan pantang menyerah merupakan hal yang bisa kita pergunakan dalam menjalani proses kehidupan.
JANGAN PERNAH TAKUT UNTUK BANGKIT APABILA ANDA TERJATUH