Pontianak, Untold Story

Terkadang seseorang yang ber-kewarganegaraan di negara nya; belum tentu dirinya  pernah mengunjungi semua kota yang ada di negara tersebut. Seperti halnya saya sendiri yang belum pernah mengunjungi Kota Pontianak, kota di Propinsi Kalimantan Barat. Beberapa hari lalu, akhirnya saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya ke Kota Pontianak.

Untold Story

Apa yang membuat saya tertarik menulis mengenai Kota Pontianak? Karena di kota tersebut memiliki sesuatu yang cukup menarik untuk dilihat oleh wisatawan. Banyak orang yang sudah mengenal Bali, Lombok, Yogya, bahkan sampai ke Papua dengan keindahan Raja Ampat nya.  Tapi sangat disayangkan Kota Pontianak jarang disebut sebagai kota tujuan wisata.

Padahal di kota tersebut banyak hal yang bisa dibanggakan. Pontianak, merupakan salah satu kota di dunia yang dilalui oleh garis Khatulistiwa. Beruntung saya berkesempatan mengunjungi Tugu Khatulistiwa, tempat dimana garis lintang dan bujur benar-benar pada posisi 0 derajat; bahkan sebuah telur pun pada posisi tersebut bisa berdiri dengan tegaknya.

Berbicara masalah budaya, Pontianak memiliki 3 perpaduan budaya yang sangat kental yakni budaya Dayak, Tionghoa, dan Melayu yang tercermin dengan batik terkenal nya Batik Tidayu ( Tionghoa, Dayak dan Melayu). Perbedaan budaya inilah yang membuat Kota Pontianak menjadi daya tarik sendiri, karena walaupun mereka berbeda, namun bisa hidup bersama-sama sejak dahulu kala.

3 jam dari Kota Pontianak ada kota Singkawang, kota yang berjulukan dengan 1000 wihara mempunyai daya tarik tersendiri pada saat hari raya Imlek dan perayaan Cap Go Meh (15 hari setelah Imlek). Kota Singkawang menjadikan perayaan Cap Go Meh secara besar-besaran,  Salah satu ritual penting sekaligus paling memikat dari Cap Go Meh adalah hadirnya ritual tatung. Tatung merupakan media ritual perayaan Cap Go Meh untuk menolak roh-roh jahat dan mengusir kemalangan sepanjang sisa tahun. Selama ritual tatung, peserta dirasuki oleh Dewa-Dewa sehingga mengalami ketidaksadaran bahkan mampu melakukan tindakan di luar kuasa dari seorang manusia.

Perayaan Tatung di Singkawang

Dalam perjalanan balik dari Singkawang ke Pontianak, ada hal yang membuat saya terkejut setelah mengetahui ada sebuah pulau yang terletak 2 jam dari Pontianak, Pulau Simping, ini merupakan pulau terkecil di dunia yang tercatat dan diakui dalam buku UNESCO.

Selain alam, perpaduan 3 budaya, Pontianak pun tekenal dengan surga kuliner nya. Mulai dari makanan laut, bakmi sampai ke jajanan pasar khas Pontianak tak bisa dipungkiri untuk dicoba rasanya. Sayang saya tidak sempat menikmati semua masakan  dikarenakan terbatasnya waktu.

Walaupun cukup singkat, perjalanan selama 3 hari ke Pontianak membuat mata saya terbuka akan keanekaragaman kekayaan wisata di Indonesia; namun banyak yang belum digarap secara baik, sehingga  banyak orang yang tidak mengenal keindahannya.

Bahkan sangat disayangkan  Pulau  Simping yang tercatat di UNESCO pun tidak terawat dengan baik, jembatan yang menuju ke sana pun saat ini terputus, sehingga saya hanya bisa duduk terdiam melihatnya dari pinggir pantai.

Saya yakin banyak tempat lain di tanah air yang bisa kita jadikan tempat wisata. Hanya saja  perlu dipelihara, diperbaiki, dan dipromosikan sehingga menjadi salah satu tujuan wisatawan.

Mari kita lestarikan alam dan budaya Indonesia.

Untold Story Must Be Revealed……….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *