Let’s Go China, Let’s Go….. Let’s Go China, Let’s Go. Atau kita pernah dengar Jia You… Jia You! Itulah kata-kata semangat yang biasa diteriakkan suporter China untuk mendukung atlet nya dalam suatu pertandingan olah raga.
Kalau China dikenal sebagai kekuatan olah raga merupakan hal biasa. Terbukti dalam satu dekade terakhir di pesta olah raga terbesar dunia, Olimpiade, China terus menempel ketat persaingan dalam perburuan medali emas dengan USA.
Kekuatan olah raga China yang bisa menembus kekuatan dunia boleh dikatakan di cabang senam, loncat indah, tenis meja, bulutangkis maupun menembak. Lain halnya dengan olah raga tenis. Tidak pernah terdengar atlet China yang bersuara di cabang olah raga tenis. Walau kita pernah kenal petenis keturunan China, Michael Chang di era 90 an pernah menjuarai French Open, namun Michael saat itu pun bukan mewakili China tetapi sebagai wakil USA. Kali ini China kembali membuktikan dirinya sebagai kekuatan olah raga dunia, dalam olah raga tenis dengan keluarnya Li Na sebagai juara Australian Open 2014 (sebelumnya pernah juara French Open).
Li Na menembus kekuatan yang biasa dikuasai oleh pemain-pemain Amerika maupun Eropa. Luar biasa dalam usia yang tidak tergolong muda untuk meraih prestasi puncak, Li Na (31 tahun) bisa menjadi petenis China pertama yang berhasil merebut gelar Grand Slam (ada 4 kejuaraan yang dikategorikan gelar Grand Slam: Australian Open, French Open, Wimbledon dan US Open) gelar yang diimpikan oleh setiap petenis dunia.
China memang merupakan kekuatan baru di percaturan dunia, tidak hanya piawai di bidang olah raga tapi ekonomi nya pun memberikan warna tersendiri di dalam ekonomi dunia.
“Belajar dari negeri China” salah satu perkataan Nabi Muhammad memang terbukti benar. Indonesia, yang merupakan negara berpenduduk terbesar ke 4 dunia, jangan pernah malu untuk belajar dari China, yang saat ini menjadi negara nomor 1 dalam pertumbuhan perekonomian dunia. Indonesia boleh meniru apa yang telah dilakukan China dalam mengatur tata perekonomian di negaranya. Terlebih lagi Mc Kinsey memperkirakan pada tahun 2030, Indonesia bisa termasuk sebagai salah satu negara terkuat dalam perekonomian dunia. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk belajar dari suatu negara yang terbilang telah membuktikannya.
Walaupun tahun 2030 terlihat masih jauh, tapi menuju ke arah sana perlu adanya persiapan matang terutama pembentukan sumber daya manusia yang lebih terdidik dan terampil, agar secara mental siap menghadapi perubahan jaman dan kemajuan tehnologi yang ada saat ini.
Berbicara mengenai sumber daya manusia, tidak ada salahnya untuk menginspirasi sosok seseorang agar kita bisa termotivasi untuk belajar dari mereka, salah satunya belajar dari pengalaman petenis China, Li Na. Tahun lalu di kejuaraan yang sama Li Na masuk ke final Grand Slam, namun Li Na tidak berhasil menggondol gelar juara. Tapi dengan kerja keras, belajar dari kekalahan dan dengan karakternya pantang menyerah, akhirnya pada kesempatan final tahun ini, Li Na bisa memberikan gelar juara bagi negaranya.
Selamat buat Li Na, gelar juara ini serasa dipersembahkan olehnya untuk menyambut tahun baru China yang minggu depan kita rayakan. Semoga gelar juara ini bukan hanya sebagai kebanggaan bagi orang-orang Asia saja; akan tetapi buatlah hal ini menjadi sumber inspirasi bagi kita semua untuk terus belajar dan berjuang untuk meraih sebuah prestasi.

