Budaya Bareng

Tak terasa telah satu bulan penuh umat Islam berpuasa. Ibadah puasa merupakan hari untuk mereflesikan diri agar dapat menahan amarah dan emosi, bisa saling memahami, mengerti serta saling peduli pada sesama. Hari Raya Ramadhan hanya tinggal hitungan jam saja.  Umat Islam seluruh dunia sudah siap menyambut hari kemenangan.

Yuk Bareng….

Saya terkesan dengan budaya di Indonesia dengan istilah “bareng”. Selama berpuasa, tali persaudaraan antar masyarakat di Indonesia semakin terjalin erat. Budaya buka bareng (bukber) menjadi salah satu aktivitas rutin yang selalu terlihat dalam satu bulan ini sebelum merayakan hari kemenangan. Ngabuburit bareng pun sangat popular di kalangan anak-anak muda di Indonesia dalam menunggu waktunya berbuka puasa.

Tak hanya bukber saja, kalau kita amati, dua minggu sebelum Hari  Raya Ramadhan, sebagian orang sudah mengatur mudik bareng-bareng (mubar). Entah yang dilakukan oleh pribadi dengan sanak saudara. Ataupun beberapa perusahaan memberikan fasilitas mudik bersama untuk para karyawannya.

Budaya “bareng”atau kebersamaan itulah yang membuat saya bangga dengan bangsa ini. Indonesia merupakan negara besar, dengan jumlah penduduk terbesar ke-empat di dunia. Seandainya budaya “bareng” ini, bisa kita terapkan di setiap masyarakat tanpa melihat asal usul, jabatan ataupun golongan; pastilah negara kita menjadi negara hebat.

Saya lihat negara-negara maju seperti di Singapura, Jepang, Hong Kong maupun negara maju lainnya tidak memiliki budaya ” bareng” seperti di  Indonesia.  Secara kebetulan rumah saya dekat Masjid, pada suatu pagi saya dengar ceramah dari seorang Ustad yang mengatakan bahkan di Arab pun budaya Silahturami saat lebaran tidak banyak dilakukan. Sifat individual negara-negara maju memang terlihat lebih kental dan sangat berbeda dengan budaya kita, budaya kebersamaan.

Mungkin saya bisa mengambil tagline sebuah iklan di Indonesia yang mengatakan “tidak ada elo tidak ramai” itulah memang yang selalu perlu kita ingat, kita harus selalu hidup bersosialisasi dengan orang lain harus bergotong royong dan harus menjujung budaya “bareng”

Saya pernah menulis di artikel sebelumnya yakni masalah semaraknya gadget. Walaupun dengan kemajuan tehnologi, yang sebenarnya bisa menyampaikan selamat hari raya bagi sanak saudara teman dan kerabat hanya dalam hitungan detik. Namun acara Silaturahmi, kumpul bareng, saling bertemu untuk saling maaf memaafkan tidak bisa tergantikan oleh sebuah tehnologi. Itulah budaya  yang perlu dipertahankan.

Selamat Hari Raya Ramadhan, Sebarkan hari bahagia ini ke seluruh umat manusia.