Tahun 2017 kita mengenal istilah virus yang dinamakan VUCA. Keadaan yang masih belum stabil (Volatile), perubahan yang tidak menentu (Uncertainty), kondisi yang cukup rumit (Complexity), keputusan yang serba membingungkan (Ambiguity). Hal ini tidak dirasakan di Indonesia saja, tapi juga menjadi fenomena di dunia.
Dalam menghadapi tahun 2018 yang sudah di depan mata, fenomena VUCA pasti tetap akan menghantui kita. Di Indonesia tahun 2018 cukup menantang dengan adanya Pilkada, dimulainya dengan kampanye Pilpres, dan ajang besar Asian Games serta konfrensi World Bank. Bagaimana sebagai pelaku usaha menyikapi fenoma ini?
Tak terasa tahun 2017 sudah memasuki bulan terakhir. 11 bulan berputar sedemikian cepat. Pada umumnya di bulan terakhir, banyak dari kita sudah mulai merencanakan apa yang akan dilakukan untuk tahun kedepan. Bagi para pelaku usaha sudah memikirkan apa strategi perusahaannya untuk menghadapi persaingan; berapa besar perusahaan akan meningkatkan penjualan dan laba bersih nya.
Hal berbeda dengan seorang pekerja yang mulai memikirkan karier yang di-impikan. Salah satu resolusi dari banyak orang pada umumnya, ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, atau ada yang merasa di perusahaan lama sudah tidak memungkinkan bagi dirinya untuk dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi; bahkan ada yang sudah merasa jenuh dengan lingkungan kerja yang sekarang, dan masih banyak pertimbangan lain untuk mempertimbangkan tantangan baru di perusahaan lain.
Siapa yang tidak kenal film James Bond? Tokoh agen rahasia 007 selalu tetap menjadi pemenang. Sama seperti setiap film laga Hollywood, yang nama jagoannya tidak pernah kalah atau alias terbunuh oleh lawannya.
Nah pertanyaannya, apakah toko-toko retail akan banyak gulung tikar dalam masa yang akan datang? Dikarenakan saat ini sedang maraknya penutupan beberapa gerai retail di Indonesia. Entah dikarenakan daya beli masyarakat yang sedang menurun, perilaku konsumen yang lebih senang menghabiskan uangnya untuk kegiatan lain seperti berlibur atau berinvestasi, atau bisa juga dikarenakan oleh penjualan on line yang semakin menjamur saat ini.
Apabila kita pernah mendengar perkataan Bapak Agung Adiprasetyo mantan CEO Kompas Gramedia, “harta mudah dicari, namun nama baik tidaklah mudah untuk dicari” maka saya ingin mengangkat sosok Ibu Martha Tilaar. Perempuan yang dilahirkan 80 tahun lalu di kota kecil Gombong, Kebumen-Jawa Tengah, telah mengukir namanya menjadi tokoh wanita di Indonesia. Berkat dedikasi dalam melestarikan alam dan budaya Indonesia di setiap pekerjaan yang digelutinya, maka berbagai penghargaan telah diterimanya baik secara nasional dan internasional.
Kalau mendengar cerita Ibu Martha, beliau memiliki 2 orang adik yang menurutnya kedua adiknya jauh lebih pintar darinya terutama di bangku pendidikan sekolah. Namun karena sifat pantang menyerah dan mau bekerja keras, maka Ibu yang dikaruniai 4 orang anak, mampu membuktikan bahwa dirinya pun bisa menjadi orang yang sukses. Continue reading “Namamu = Hartamu”
Merupakan kebanggaan bagi kita dilahirkan di tanah air Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah.
Merupakan kebanggaan bagi kita dilahirkan di tanah air Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya dan bahasa.
Hari ini Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke 72. Indonesia telah merdeka, telah bebas dari penjajahan Belanda dan Jepang yang cukup lama menguasai tanah air kita. Kita patut bersyukur, merayakannya dan yang terpenting kita harus selalu bersatu untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila.
Apa Kontribusi Kita?
Saat ini kita memang tidak harus membawa senjata untuk membela Indonesia, karena Indonesia sudah merdeka. Namun kita harus membawa Indonesia menjadi suatu negara yang siap bersaing dengan dunia global. Salah satu caranya melalui industri pariwisata. Negara kita jangan sampai kalah dengan negara lain dalam memperkenalkan kekayaan alam, budaya, dan tempat wisata yang ada di negara Indonesia. Continue reading “Co Branding for Indonesia”
Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa besok sudah memasuki bulan kedua di semester 2 tahun 2017. Anak-anak pun sudah mulai masuk ke sekolah lagi sejak 2 minggu yang lalu. Hiruk pikuk serta kemacetan di Jakarta sudah kembali mewarnai aktifitas kita.
Mengingat liburan sekolah kemarin, rasanya ingin memutar kembali waktu yang telah berlalu. Saat menghabiskan waktu bagi keluarga, saatnya sedikit melupakan kesibukan rutinitas pekerjaan kita sehari-hari. Saat liburan kemarin, saya berkesempatan mengunjungi negara Sakura, Jepang, negara yang terkenal dengan kedisiplinannya serta sangat patuh dengan aturan yang ada.
Masih dalam suasana Lebaran, perkenankan saya mengucapkan Selamat Lebaran, Minal Aidin Wal Faizin. Mohon maaf lahir dan bathin. Hari kemenangan bagi kaum muslim, hari Idul Fitri, yang penuh rasa syukur kepada Tuhan atas segala karunia dan anugerah yang telah diberikan kepada umatNya.
Hal Baru
Umat Muslim telah berpuasa selama 30 hari lamanya yang menandakan bahwa umat Muslim telah menahan untuk tidak hanya makan dan minum sebelum matahari terbit sampai tenggelamnya matahari, namun yang lebih penting disini menahan terhadap segala hal yang menimbulkan kemarahan, kesombongan serta perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Dengan berpuasa, membuat umat Muslim menjadi manusia baru yang telah terbebas dari dosa.
Selain berpuasa, berdoa, dan beramal. Ada hal lain yang biasa disiapkan menjelang Lebaran, yakni membuat ketupat serta sayur pendukungnya, kue kering, kolang-kaling; dan tidak boleh tertinggal untuk membeli baju, sarung, sajadah baru untuk menyambut hari kemenangan.
Namun ada beberapa orang yang merasa tidak harus membeli sesuatu yang baru. Mereka cukup memberikan sedikit ornamen di dalam pakaiannya atau sedikit merubah jahitan pakaian lamanya menjadi model yang lebih baru. Cukup sederhana bukan? Hanya dengan sedikit penambahan motif atau ornamen bisa menjadikan hal yang lama menjadi sesuatu yang baru.
Bulutangkis yang selalu mengharumkan prestasi olah raga Indonesia, kembali mengalami kenangan pahit. Dalam kejuaraan beregu campuran yang dikenal dengan Piala Sudirman telah menjadi saksi menurunnya prestasi pebulutangkis Indonesia.
Perjalanan Piala Sudirman
Piala Sudirman (Sudirman Cup) merupakan kejuaraan beregu campuran yang diadakan 2 tahun sekali, piala tersebut diprakarsai oleh mantan pemain Indonesia dan juga pendiri Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI), Dick Sudirman. Continue reading “Piala Sudirman Yang Dirindukan”