Musim liburan sekolah telah usai, minggu lalu di Jakarta mulai terasa kembali kepadatannya. Seandainya liburan sekolah bisa dilakukan beberapa bulan setiap tahunnya, mungkin kepadatan di ibukota bisa sedikit teratasi.
Liburan anak sekolah, bisa dijadikan liburan para orang tuanya. Saya pun ikut merasakan bagian dari hal ini, dengan mengambil cuti selama 10 hari. Dalam kesempatan liburan anak sekolah tahun ini, saya bersama keluarga berlibur ke negaranya Roger Federer, petenis nomor satu Swiss dan negara pembuat pizza & spaghetti, Italia.
Keindahan alam, kekayaan budaya serta berbagai macam kuliner menjadi hal yang biasanya dinikmati para turis apabila berpergian ke suatu negara lain. Tidak bisa dipungkiri, budaya Eropa boleh terbilang tertua di dunia. Banyak sejarah bermunculan di benua Eropa. Belum lagi melihat bangunan dan arsitektur yang membuat decak kagum saya. Tidak tanggung-tanggung, banyak bangunan di Italia dibangun sebelum era1900, dan telihat masih indah dan kokoh.
Local Brand
Selain melihat alam dan budaya negara orang, biasanya kalau pergi ke negara lain, kita senang mencari produk-produk lokal yang terbuat atau originalitas nya dari negara tersebut, seperti merek-merek terkenal jam tangan, Rolex, Omega, ataupun merek coklat Lindt yang berasal dari Swiss. Belum lagi bagi pencinta tas bermerek keluaran dari Italia seperti seperti Salvatore Ferragamo, Bottega Venetta. Mengapa para turis senang mencari merek lokal? Yang pertama pasti kita dapatkan design baru yang belum ada di negara lain atau bahkan produk ini hanya dijual di negara asalnya dan tidak untuk dijual di negara lain. Hal yang kedua harganya bisa jauh lebih murah apabila kita beli di negara asalnya.
Global Brand
Merek-merek lokal di atas tentunya sudah cukup terkenal di dunia. Bahkan beberapa mal di Jakarta telah membuka gerai merek terkenal tersebut. Ini yang kita sebut Global Brand. Merek lokal yang sudah mendunia.
Selain merek Italia dan Swiss yang originalitasnya dibuat di negara asalnya, tidak dipungkiri, negara-negara di Eropa pun dibanjiri merek global yang di Indonesia pun sudah menjadi merek ternama seperti Mc Donald, Coca Cola dan Starbucks Coffee.
Siapa yang tidak kenal Coca Cola, merek minuman soda dari Amerika tersebar di semua toko minuman, rumah makan dan supermarket yang saya kunjungi. Belum lagi gerai makan cepat saji Mc Donald yang siap menyapa keinginan perut kita yang terkadang sudah mulai bosan dengan makanan lokal. Pasti kita semua setuju menu makanan di Mc Donald paling bisa diterima di lidah setiap orang. Seakan ada rasa kangen ingin menikmati makanan khas Amerika tersebut.
Lain halnya Starbucks Coffee, walau di Swiss gerai Starbucks ada dimana-mana, tapi tidak di Italia. Starbucks tidak bisa masuk ke Italia, karena Italia boleh dikatakan empunya Cappuccino dan Espresso.
Dalam kesempatan ini, saya semakin tertantang bagiamana Indonesia bisa menciptakan merek global seperti di atas. Atau seandainya merek Indonesia perlu waktu untuk mendunia, mungkin yang paling mudah dilakukan sama seperti di Italia, yang dengan bangganya tidak memberikan peluang untuk Starbucks Coffee menancapkan benderanya di Italia.
Seandainya batik Indonesia bisa kita lakukan proteksi seperti kopi di Italia, mungkin di Indonesia tidak dibanjiri batik-batik dari China atau mungkin tidak di-klaim sebagai budaya Malaysia.
Liburan memang menyenangkan, banyak hal yang saya peroleh dan pelajari dari kunjungan singkat ke Swiss dan Italia, dan ini bisa dijadikan sumber inspirasi bagi merek Indonesia dan kita semua untuk terus berusaha menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi.
Sama seperti saya sebagai turis, maka kita harapkan turis mancanegara pun, kalau berlibur ke Indonesia akan mencari produk atau merek asli Indonesia.