50:40:10

Angka di atas ingin saya pakai untuk bicarakan mengenai  Strategi, Eksekusi dan Hoki.

Saya mengambil formula ini sebenarnya terinsipirasi dari penampilan AC Milan salah satu klub sepakbola di Italia. Klub dari negeri spaghetti ini terbilang merupakan salah satu klub terbaik di dunia.

Tapi mengapa akhir-akhir ini, penampilannya tidak sebanding dengan julukan klub terbaik? Sampai minggu ke 9 Liga Italia, AC Milan sudah kalah sebanyak 5 kali dan baru bisa menang 3 kali saja. Continue reading “50:40:10”

September Ceria

Masih ingat penyanyi Burung Camar yang masih exist sampai sekarang? Tidak lain, tidak bukan adalah Vina Panduwinata seorang sosok penyanyi yang membawa warna bagi musik Indonesia. Salah satu lagu favorite saya yakni: September Ceria. Entah bagaimana bisa pas; di bulan September tidak hanya merupakan hari ulang tahun perusahaan Martha Tilaar;  namun ibu Martha Tilaar sendiri merayakan hari jadinya. Continue reading “September Ceria”

Creating A Great Local Product

Awal tahun lalu saya sempat diundang oleh Centre for Management Technogy (CMTSP) untuk menjadi salah satu pembicara pada acara 12th Asian Surfactants Seminar di Shanghai, China yang diadakan pada tanggal 4-5 September 2012.

Sebelum menerima undangannya, saya sempat ragu-ragu. Apakah benar saya cukup kompeten untuk bicara dalam acara tersebut? Dikarenakan acara seminar tersebut lebih membicarakan mengenai bahan baku dan bahan kimia yang digunakan untuk Personal dan Home Care Products. Padahal ilmu pengetahuan saya mengenai bahan-bahan seperti itu boleh dibilang kelas teri alias masih harus banyak belajar.

Namun ternyata setelah dijelaskan materi yang harus dibawakan dalam seminar tersebut, membuat saya memberanikan diri untuk menerima tawaran dari panitia. Saya tidak harus menjelaskan unsur-unsur yang menyangkut kimia, tapi lebih membicarakan mengenai pasar  Skin Care di Indonesia.

Pada acara seminar di Shanghai tersebut, saya membawa tema “Creating A Great Skin Care Product” Bagaimana produk lokal men-diferensiasi dengan produk-produk multinasional. Bagaimana membawa unsur lokal dalam menghadapi persaingan dari produk-produk luar negeri yang menguasai pasar di Indonesia.

Sari Ayu Martha Tilaar –  Putih Langsat Case Study

Inti dari presentasi ini adalah Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup melimpah. Nah disini, diambil peluang oleh Sari Ayu, salah satu merek dari Martha Tilaar untuk bersaing dengan produk-produk luar negeri dengan menggunakan bahan alam Indonesia.

Tertarik untuk membaca lebih lengkap, silahkan membaca nya di link di bawah ini.

Creating A Great Local Product

Semoga produk-produk lokal bisa terus bersaing dengan produk-produk impor dengan menggunakan kearifan budaya dan alam Indonesia; yang saya rasakan hal itu bisa menjadi salah satu keunggulan dan diferensiasi kita.

Altius, Fortius dan Citius = Brand Building

Pesta olah raga empat tahunan, Olimpiade baru saja usai.  Lebih kurang 2 minggu pesta olah raga tersebut digelar di kota London.

London sebagai kota penyelenggara boleh dikatakan sukses dalam menyelenggarakan pesta olah raga Olimpiade yang diadakan untuk ke 30 kalinya.

Persaingan antara lebih dari 200 negara untuk memperebutkan moto Olimpiade Altius, Fortius, dan Citius: menjadi yang tertinggi, terkuat dan tercepat menjadi momen bersejarah dan kebanggaan bagi para peserta karena merekalah menjadi pahlawan olah raga bagi negaranya. Continue reading “Altius, Fortius dan Citius = Brand Building”

Siapa Yang Lebih Kuat?

Jaman 70 an, di Indonesia bermunculan pasar modern yang kita kenal supermarket. Mungkin masih ingat nama Gelael dan Hero supermarket.  Ke dua Supermarket tersebut sedikit banyak mengubah perilaku belanja konsumen yang biasa belanja di pasar tradisional beralih ke pasar modern. Berselang waktu, hadir Supermarket dengan sistem grosir Makro dan Goro.

Waktu berjalan, karakter konsumen pun semakin lama semakin berubah. Di tahun 90 an, hadir pusat belanja dengan sistem Hyper Market: semua barang-barang ada disana dengan harga yang sedikit lebih miring.

Perubahan terus berlangsung, selain Hyper Market; keluar juga Mini Market. Yang mana konsumen hanya ingin beli barang-barang untuk keperluan sehari-hari yang mungkin lupa beli saat belanja bulanan. Indomaret dan Alfamart mendominasi pangsa pasar untuk Mini Market tersebut.

Indonesia semakin berkembang; tahun lalu GDP sudah menembus angka USD 3,000. Perubahan perilaku pun terus berubah; banyak konsumen muda bermunculan dimana mereka pun bisa menjadi penggerak ekonomi bangsa saat ini.

Perubahan karakter konsumen; disiasati oleh para perusahaan asing yang bergerak di retail.  Lotte Mart perusahaan Korea melihat peluang ini dengan menacapkan kuku nya di Indonesia.

Seven  Eleven pun lahir untuk bersaing dengan pasar modern yang sudah lebih dulu hadir di Indonesia. Belum sampai 1 tahun, ada retail baru lagi yang juga hadir yakni Lawson, perusahaan retail dari Jepang.  Ke dua Mini Market  ini lebih mengutamakan makanan cepat saji; yang memang buat anak-anak muda bisa nongkrong seharian penuh disana. Boleh saya katakan ini merupakan Mini Market Plus.

Tinggal bagaimana persaingan antar Supermarket, Hypermarket, Mini Market serta Mini Market Plus mengemas strategi untuk menciptakan Crowd nya masing-masing sehingga bisa bertahan ditengah persaingan saat ini.

Sangat disayangkan pasar modern pertama Indonesia, Gelael Supermarket lambat laun bisa kurang berkembang karena ditelan dengan persaingan yang begitu ketatnya.

Siapkah pasar tradisional Indonesia bertahan menghadapi kompetisi seperti ini?

Siapa yang kuat, apakah dia pemenangnya?

B,A,L=I

Melihat ke 4 huruf ke atas, terbaca sekilas seperti Bali.

Ya memang kalau disambung ke 4 huruf tersebut dibaca Bali.   Ada apa dengan B,A,L = I. Apakah saya ingin bercerita tentang Bali kembali ;seperti tulisan saya beberapa waktu yang lalu?

Liburan Sekolah

Seperti biasa, bulan Juni sampai bulan Juli merupakan hari nya anak-anak. Karena 1 bulan penuh mereka terlepas dari kegiatan belajar, ulangan, pekerjaan sekolah ataupun kegiatan lain yang menyangkut sekolah.

Seperti kebiasaan saya, saya sangat suka merangkai huruf-huruf menjadi sebuah makna atau arti tertentu. Sehingga memudahkan orang untuk mengingatnya.

Kenapa saya ingin merangkai ke 4 huruf tersebut? Mungkin karena saya sangat suka ke Bali? Dan kebetulan pula, saya sekeluarga berlibur kembali ke Bali.

Atau memang mudah dibentuk ke 4 huruf tersebut menjadi sebuah makna?

Inilah teka teki dari ke 4 huruf tersebut:

Saya ingin membicarakan mengenai kekayaan alam Indonesia. Dan saya terinsipirasi setelah meihat salah satu pagelaran budaya di Nusa Dua, Bali yang notabene sekelas dengan pertunjukan show Cirque De Soleil.

Di dalam pagelaran tersebut, diceritakan bagaimana kekayaan negara kita, Indonesia yang mana memiliki:

B: Budaya yang beraneka ragam terdiri dari lebih 300 etnik yang terdiri dari lagu, bahasa, busana serta tarian daerah.

A: Alam yang sangat kaya dengan keindahannya baik yang ada di darat maupun di laut.

L: Lokasi yag cukup staregis dikeliliingi oleh 2 samudera dan menjadi salah satu negara yang dilewati garis equator

I: Itulah Indonesia, yang bisa kita banggakan karena memliki kekayaan yang cukup lengkap yang mana hal tersebut rasa-rasanya tidak dimiliki oleh negara-negara lain (bukan bermaksud sombong atau bersifat nasionalis).

Pilkada DKI

Terlepas dari keindahan Indonesia, saat ini kota Jakarta sedang melakukan pemilihan seorang sosok nomor 1 di Jakarta. Mudah-mudahan berawal dari kota Jakarta bisa terpllih seorang pemimipin yang bisa menjadikan Budaya, Alam dan Lokasi menjadi salah satu unsur yang bisa membawa harum nama bangsa Indonesia.

B: Budaya,          A: Alam,          L: Lokasi          =          I: INDONESIA

Ada Apa Denganmu, Meneer?

Tak terasa  piala Eropa 2012 sudah memasuki babak 8 besar.  Bahkan minggu ini sudah  bisa diperoleh siapa yang berhak hadir di 4 besar kekuatan Eropa. Apakah tim favorite anda masih bertahan?

Apa yang mau dikata, tim favorite saya  tim orange sudah angkat koper. Dan yang lebih menyedihkan, tidak ada satu poin pun yang diraih.

Bayangkan apabila kita bandingkan dengan prestasi Belanda di perhelatan piala dunia 2010; seakan  ibarat bumi dan langit. Permainan yang diperagakan sama sekali tidak mencerminkan sebagai finalis piala dunia 2010.

Padahal boleh dibilang skuad pemain dan pelatih hampir sama dengan piala dunia 2010: hanya minus Giovanni Van Bronckhorst yang sudah pensiun.

Kekecewaan Suporter Belanda

Pelajaran yang bisa didapat

Mungkin di balik kegagalan Belanda, ada hal yang bisa kita pelajari:

1.  Kesombongan. Tim yang diunggulkan; biasanya ada karakter kesombongan. Padahal sebuah tim yang sudah di atas, biasanya banyak tim yang memonitor kekuatan dan kelemahan dan ingin menganggalkannya.

2. Individual. Siapa yang tidak kenal Van Persie atau Huntellar? Para pencetak gol terbanyak di liga Inggris dan Jerman. Belum lagi ditambah pemain kunci lain seperti Robben atau Sneider. Mereka seakan bermain di bawah kemampuan yang sebenarnya atau mereka hanya ingin menunjukkan kehebatan individu semata. Dalam pertandingan beregu, kemampuan individu tidaklah mempunyai arti; kerja sama tim tetap perlu di atas dari kemampuan individu.

3. Perbaikan.  Kegagalan tidak lah bersifat selamanya. Setiap kegagalan perlu adanya tindakan perbaikan ataupun perubahan. Biarlah prestasi buruk tim Belanda di Piala Eropa 2012 disesali sesaat saja. Perlu ada pembenahan untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi. Apalagi kualifikasi Piala Dunia 2014 di Brazil sebentar lagi akan berlangsung.

Hemat kata:

“Jangan pernah sombong; apabila sudah di berada di atas;

Segala prestasi atau pencapaian pastilah ada peran dan dukungan orang lain; jangan merasa hasil individu semata;

Dan jangan pernah berhenti untuk melakukan koreksi apabila terjadi kegagalan”.

Selamat menikmati sisa pertandingan Piala Eropa 2012!