Belum lama ini saya sempat berkunjung ke negara dengan penduduk terbanyak dunia yakni Tiongkok. Negara yang dikenal dengan sebutan Tirai bambu diakui menjadi negara yang tengah menggeliat dalam percaturan ekonomi dunia. Negara adidaya Amerika Serikat pun diberikan suntikan dana dalam menstablikan perkonomian negaranya. Belum lagi perusahaan-perusahaan Tiongkok sudah mulai masuk ke dalam jajaran perusahaan Fortune 500 yang beberapa tahun lalu masih didominiasi oleh perusahaan Amerika atau Eropa.
6 Malam, 7 Hari
Saya pergi ke Tiongkok bersama 2 rekan kantor atas undangan Ketua Diaspora Indonesia China yang ingin membawa produk Indonesia, dalam hal ini produk Martha Tilaar, untuk bisa menancapkan kukunya di Tiongkok.
Perjalanan 7 hari ditambah dengan menginap di pesawat 1 malam memang tidak cukup untuk melihat pasar Tiongkok yang cukup besar. Bahkan kalau saya hitung untuk lakukan studi pasar disana bisa dibutuhkan waktu berbulan-bulan karena besarnya wilayah daratan Tiongkok seluas 9.5 juta kilometer persegi (Luas Indonesia hanya 1.9 juta kilometer persegi) Namun dalam waktu yang cukup singkat, kami bisa mengunjungi 3 kota: Beijing, ibukota Tiongkok dan pusat pemerintahan, Harbin, kota paling utara di negara Tiongkok yang bersebelahan dengan Rusia dan Shanghai, kota paling modern di Tiongkok.
Global Brand
Made in China merupakan hal yang biasa kita dengar. Hampir semua perusahaan berlomba-lomba memproduksi barangnya disana, dikarenakan tenaga kerja yang murah serta ditunjang dengan fasilitas memadai.
Walaupun Tiongkok cukup piawai dalam bidang industri manufaktur, namun saat ini masih belum banyak terdengar perusahaan Tiongkok yang melakukan Branding produknya secara mendunia. Memang saat ini mulai bermunculan merek-merek yang bersifat tehnologi seperti Huawei, Xiaomi, ZTE mapun Lenovo, namun dari segi brand awareness saya rasa masih kalah dibandingkan Apple, Samsung ataupun Nokia.
Dalam perjalanan saya ke sana, merek Apple, Coca Cola, Mc Donald, Starbucks dan merek-merek global terkenal lainnya membanjiri pasar Tiongkok. Kita ambil contoh di dunia telepon genggam, satu dua saya lihat orang memakai Xiaomi atau merek lokal Tiongkok lain; apabila saya bandingkan bisa dikatakan 1: 3 bila dibandingkan dengan pemakaian Apple atau Samsung.
Konsumen di sana ternyata masih mengidolakan merek-merek import serta yang sudah terkenal secara global. Walaupun mereka mengerti merek import pun produksinya bisa dilakukan di negara mereka sendiri.
Itulah kekuatan sebuah merek. Itulah yang disebut BRANDING. Sama halnya Indonesia yang kaya dengan kopinya; sangat disayangkan kopi hanya menjadi produk komoditi saja. Starbucks bisa memanfaatkan hal ini bukan hanya sebagai produk kopi melainkan disulap menjadi sebuah merek dunia.
Sekuntum Melati
Ditengah keramaian merek-merek terkenal di Tiongkok, ada satu impian bagi Martha Tilaar Group (MTG) untuk membuka usahanya di pasar Tiongkok. Apakah merek MTG bisa menjadi salah satu merek terkenal disana seperti halnya yang dilakukan Apple ataupun Starbucks ? Apakah MTG bisa melakukan branding produknya dengan berkompetisi dengan perusahaan dunia bahkan melawan perusahaan lokal Tiongkok itu sendiri?
Kalau saya ibaratkan MTG sama seperti ikan kecil yang berenang di hamparan samudera luas dan dikelilingi oleh ikan-ikan besar apabila ingin masuk kesana. Namun saya teringat kata Ibu Martha Tilaar, “saya akan persembahkan sekuntum bunga melati bagi bumi pertiwi.” Agar bisa masuk ke Tiongkok secara realistis, saya ingin mengambil kutipan Ibu Martha, cukup membawa sekuntum melati ke negara tirai bambu. Sekuntum melati MTG di tengah persaingan yang cukup kompetitf.

