Rasanya kurang enak apabila saya tidak menulis masalah piala dunia 2014. Walaupun pesta nya sudah berakhir beberapa hari yang lalu, tapi sampai sekarang pun gema piala dunia masih terus mengiang-ngiang di hati pecinta sepakbola sejagad raya.
Banyak peristiwa mengejutkan, menegangkan, kekesalan, kemarahan sampai kebodohan yang mewarnai kemeriahan pesta yang berlangsung 4 tahunan sekali.
Siapa yang sangka jagoan tuan rumah Brazil yang menjadi unggulan dibuat tidak berdaya oleh Jerman. Belum lagi Spanyol seakan tidak mencerminkan sebagai tim yang berlabel juara bertahan. Mereka pun malah lebih dahulu angkat koper bersama tim unggulan lainnya Italia, Inggris dan Portugal.
Ada juga peristiwa yang mencemarkan pesta olah raga dunia diantaranya gigitan Suarez dan tekel keras pemain Kolombia yang menyebabkan cederanya pujaan tuan rumah Neymar. Belum lagi aksi diving Robben saat Belanda melawan Mexico yang akhirnya menghasilkan tendangan penalty bagi kemengangan tim kincir angin.
Belanda-ku
Pada umumnya para penggila bola memiliki tim favorite nya. Demikian pula dengan saya; sejak tahun 1988, tim saya tidak lain adalah tim orange Belanda.
Banyak yang meragukan kemampuan dari Belanda. Bahkan saya sempat bertemu dengan orang Belanda yang sudah lama tinggal di Indonesia merasa pesimis akan tim negaranya sendiri. Dia mengatakan “Don’t be sad if you see your team loose.”
Memang kalau secara perhitungan matematis, Belanda berada di grup yang cukup berat. Bersama Spanyol sebagai tim yang selama 6 tahun belakangan ini sebagai momok yang menakutkan bagi semua lawan-lawannya. Belum lagi Australia yang belum pernah dikalahkan oleh Belanda selama pertemuan mereka. Tak kalah mendebarkan, Chili pun bisa memberikan perlawanan sengit karena didukung cuaca yang cukup bersahabat dengan Alexis Sanchez cs.
Secara logika, setidaknya Belanda masih bisa lolos dari grup maut. Tapi ramalan saya di posisi dua. Dengan posisi dua, bakal menjadi bumerang bagi Belanda karena langsung berhadapan dengan Brazil yang diperkirakan akan menjadi juara di grup lainnya. Tidak ada yang menduga, akhirnya Belanda lolos dari grup dengan nilai sempurna alias tidak pernah kalah ataupun seri.
Seandainya………..Partai Balas Dendam
Setelah diselesaikannya babak penyisihan di grup masing-masing. Saya mulai memprediksi kembali, Belanda akan ketemu Argentina di semifinal. Di partai semifinal lainnya Brazil akan ketemu Jerman. Dan saya berharap Brazil lawan Belanda di partai puncak.
Apalah dikata, skenario saya kembali salah, yang tadinya saya harapkan Brazil lawan Belanda di final, akhirnya mereka bertemu hanya untuk memperebutkan tempat ketiga.
Sebenarnya setelah melihat Brazil kalah, saya sempat berandai-andai, akankah terjadi partai balas dendam? Karena Belanda sudah mengalahkan Spanyol di babak penyisihan (tahun 2010 Spanyol mengalahkan Belanda di final). Saya harap Belanda bisa mengalahkan Argentina di semfinal (tahun 1978 Argentina mengalahkan Belanda di final). Lalu bertemu Jerman di final dan menjadi juara (tahun 1974 Jerman mengalahkan Belanda di final).
Kalau skenario saya berhasil, maka Belanda bisa menjadi juara yang lengkap karena bisa melakukan balas dendam dan juara di tanah Amerika dimana belum ada satu pun negara Eropa juara di sana.
Oleh-oleh yang bisa kita petik dalam piala dunia 2014 kali ini:
1. Strategi Van Gaal: yang berani melakukan perubahan kiper pada saat akhir. Walaupun mengandung resiko. Setiap usaha yang kita lakukan terkadang mengandung resiko, tapi harus ada perhitungan dan dasarnya sebelum kita bertindak.
2. Neymar-isme: setiap permainan yang terdiri dari lebih dari dua orang, seharusnya bermain secara tim, tidak bisa hanya mengandalkan satu orang saja. Kita bisa lihat Brazil yang terlalu mendewakan Neymar.
3. Kaderisasi ala Jerman: pembinaan perlu dilakukan sedini mungkin. Terkadang kita kurang mempercayai orang yang lebih muda. Regenerasi perlu dilakukan untuk melihat talenta-talenta yang berbakat.
Selamat untuk Jerman yang menjuarai piala dunia 2014 di benua Amerika. Not to bad buat Belanda yang memperoleh hadiah hiburan dengan mengalahkan tim tuan rumah, Brazil.

