Mungkin dalam beberapa waktu belakangan , kita sering mendengar marketing 4.0 yang dicetuskan oleh Bapak Hermawan Kartajaya. Lalu dari Bapak Airlangga Hartarto dikenalkan dengan industri 4.0. Pada prinsipnya istilah 4.0 diciptakan karena perlu adanya kombinasi antara unsur humanis dan tehnologi dalam menjalankan roda usaha apabila ingin berkompetisi.
Beberapa tahun yang lalu, Ibu Martha Tilaar pernah menjadi salah satu pembiara di dalam acara World Islamic Economy Forum (WIEF) di Kazaktan; beliau menceritakan perlunya 3 C dalam persaingan ekonomi sekarang, yakni Connect, Collaborate and to Compete.
Pada kali ini saya ingin membahas 1 C yakni Collaborate (kolaborasi). Dengan persaingan semakin ketat, belum lagi perubahan tehnologi yang mengubah perilaku manusia membuat kita memang harus berkolaborasi untuk saling melengkapi. Saya ingin meng-copy istilah 4.0 denga menyebutnya sebagai Collaboration 4.0. Kenapa saya ingin menyebut seperti itu? Pada umumnya suatu kolaborasi dilakukan oleh industri atau perusahaan yang saling berkaitan. Namun karena adanya ilmu jaman now yang mengaitkan unsur tehnologi dan pendekatan ke arah humanis maka tidak ada salahnya apabila memakai kata Collaboration 4.0.
- Unrelated Collaboration (tidak saling berhubungan)
Suatu kerja sama dengan industri yang berbeda. Entah bagaimana hubungannya, tapi suatu kali saya pernah jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, disana ada pameran perumahan, namun tidak disangka di tengah-tengah berbagai perusahaan yang menawarkan properti ada perusahaan non properti yang juga berjualan disana yakni perusahaan kecantikan. Tidak berhubungan tapi mungkin ada unsur ke arah humanisme dalam kolaborasi jenis ini.
- Complimentary Collaboration (saling mendukung)
Kolaborasi yang satu ini, mungkin sudah banyak dilakukan terutama antara bank dengan perusahaan dengan cara cicilan, atau mendapatkan discount dengan memakai kartu kredit ataupun bentuk kerja sama lainnya yang saling berhubungan. Namun yang ingin saya bahas di kolaborasi jenis ini, bagaimana memanfaatkan industri yang sedang “jaman now” untuk bekerja sama dengan produk atau usaha kita sehingga kita bisa mengambil momentum ini untuk lebih mengenalkan produk atau jasa yang kita jual.
- Competing Collaboration (Saling bersaing)
Kolaborasi yang satu ini saya sebut kolaborasi yang cukup aneh, kolaborasi dengan perusahaan yang merupakan kompetitor nya. Di Singapura, sebelum Grab membeli Uber, pernah terlihat promosi Uber ditempelkan di mobil taxi regular. Mungkin kalau di Indonesia sama dengan Blue Bird dengan Gojek, akhirnya daripada saling bersaing lebih baik mereka bekerja sama.
Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa berkolaborasi diperlukan karena terkadang kita tidak bisa berjalan sendiri, perlu adanya teman untuk memperkuat bahkan mengembangkan usaha kita ke tahap selanjutnya yang sudah pasti semakin kompetitif.


