Di akhir bulan April, para pecinta film dimanjakan dengan 2 film yakni pertemuan antara Cinta dan Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2) dan pertarungan antara tokoh komik superhero Amerika yang berjudul Captain America: Civil War
AADC2 & Civil War
Kedua film tersebut cukup menyedot penonton di tanah air. Hari Sabtu minggu lalu, saya pun sempat merasakan betapa panjangnya antrian kedua film tersebut, dan sebelum selesai mengantri petugas tiket mengatakan tiket film sudah habis untuk hari ini. Rasa kecewa pasti, sudah lama mengantri tidak membuahkan hasil.
Lalu saya pun mencoba untuk keesokan harinya di bioskop yang berbeda dengan letak yang sedikit di luar kota Jakarta yakni di Alam Sutera. Ternyata antriannya pun masih panjang untuk kedua film tersebut. Tapi beruntungnya masih ada tiket yang tersisa dan itupun jadwal yang paling malam dan sisa tinggal 2 baris bangku yang paling depan untuk film Civil War.
Ke-esokan harinya, dikarenakan keinginan menonton AADC2 dan kebutulan hari Senin ada promo dari Telkomsel, saya berniat nonton setelah pulang kerja. Antrian nya pun masih panjang terutama di jalur promo, tapi untuk jalur harga biasa tidak sepenuh seperti di hari Sabtu dan Minggu. Namun ternyata, sesampainya di loket pada saat saya tanya ke petugas bioskop, sisa tiket AADC2 sudah tinggal pertunjukan yang paling malam dan itupun tinggal di 3 baris depan yang tersisa.
Hebatnya, kedua film tersebut memonopoli semua bioskop di tanah air. Film lainnya dalam akhir minggu kemarin boleh dikatakan tidak dilirik oleh para pecinta film. Menurut info terakhir minggu ini film AADC2 sudah menembus 2 juta penonton.
AADC2 VS Civil War
Walaupun AADC2 dan Civil War sama-sama menyedot perhatian penonton Indonesia. Namun ada perbedaan mendasar yang saya lihat disini. Bagaimanapun juga film keluaran Hollywood masih tetap mendominasi bioskop di tanah air; terbukti 75% studio menayangkan film tentang jagoan Amerika yang beraksi dibandingkan film romantisa remaja.
Para penonton lebih suka film yang berkesan hero atau jagoan mereka menang setelah berperang mengalahkan musuh. Namun sangat disayangkan jagoan-jagoan Amerika berperang bukan menghadapi lawan, namun mereka saling beradu antar sesama teman seperjuangan karena memiliki ego sendiri. Entah kenapa film jagoan Amerika saat ini sedang gemar menceritakan perang antar saudara sama halnya seperti film Batman vs Superman yang belum lama ini pun main di bioskop. Apakah produsen film atau pembuat cerita sudah mulai binggung dalam membuat cerita sehingga tidak ada lagi peran musuh yang perlu dibasmi? Dan membuat para jagoan melawan teman mereka sendiri. Atau memang jalan cerita seperti ini yang bisa lebih mengangkat film Amerika bisa menjadi Box Office di perfilman dunia?
Happy Ending
Mengaca pada kedua film di atas, saya pun jadi tergelitik akan dunia politik di Indonesia. Saling bersaing dalam pemilihan pimpinan adalah hal yang biasa di dalam dunia politik. Tapi kalau sampai bersaing dengan menjatuhkan bahkan ke unsur-unsur negatif sangatlah disayangkan. Istilah Hater (orang-orang yang membenci) semakin heboh saat ini. Karena persaingan untuk memperebutkan suatu posisi sudah menjurus pada kebencian bukan lagi pada persaingan politik pada umumnya. Sama halnya di film Captain America Civil War persaingan antar para jagoan serta perasaan ingin membalas dendam, akhirnya mereka saling berkelahi sendiri.
Lain halnya film AADC2 mengisahkan seorang legenda Rangga yang sudah lama tidak terdengar kabarnya kembali muncul dalam kehidupan Cinta yang sudah bertunangan, namun segala sesuatunya bisa berubah karena ada kesempatan bagi Rangga untuk menjelaskan dan sikap terbuka dari Cinta untuk mendengar. Nah ada baiknya para hater bersikap seperti Cinta untuk memberikan kesempatan pada orang yang menjadi “obyek” kebenciannya untuk bisa menjelaskan secara lebih bijak tanpa harus secara emosional.
Para sutradara Hollywood pasti masih punya segudang cerita yang ada di dalam pemikirannya untuk meramu cerita yang pada akhirnya bisa menjadi cerita Happy Ending. Sehingga para jagoan Amerika bisa kembali berdamai. Sama seperti Rangga dan Cinta yang sudah 9 tahun tidak ada kabar, akhirnya mereka bertemu, bahkan cinta mereka bersemi kembali.
Walaupun persaingan politik pastilah terjadi di negara demokratis seperti di Indonesia. Tapi saya berharap akan terjadi Happy Ending Story, tidak ada lagi istilah musuh ( hater) atau mungkin perang antar saudara sendiri, karena persaingan yang sebenarnya bukan persaingan di negara sendiri melainkan persaingan dalam menghadapi negara-negara lain.
Yuk waktunya untuk berdamai, jangan saling membenci tapi saling mendukung.
Dan jangan lupa untuk menonton film Ada Apa Dengan Cinta 2, karya anak bangsa.


Betul…Sebuah kematangan perspektif Pak….menyaksikan kedua film tersebut menggugah kebanggaan pada karya anak bangsa yang mampu mengungguli karya Hollywood …
Dan betapa emotional touch atas rasa cinta itu bisa mengalahkan imajinasi superhero