Human 4.0: DAMO

Selamat tinggal tahun lalu

Selamat datang tahun baru

Tahun 2019 penuh kenangan,

Tahun 2020 banyak tantangan.

Mengapa saya sebut banyak tantangan? Karena kondisi yang masih belum stabil, baik di Indonesia sendiri maupun di dunia. Walau tahun lalu kita sudah melewati pilpres yang penuh fenomena, namun dengan terbentuknya kabinet baru yang berusia kurang dari 6 bulan, maka tahun ini merupakan pembuktian  bagaimana kinerja mereka dalam membangun Indonesia. Dari segi ekonomi Indonesia, meskipun ada pertumbuhan dibandingkan tahun 2018 namun belum sesuai dengan target yang dicanangkan. Bagaimana dengan situasi dunia? Pastilah kita masih dihantui dengan ketakutan perang dagang Amerika dan Tiongkok. Tahun lalu pun terjadi perlambatan ekonomi di berbagai negara yang bisa memberikan patokan akan tantangan tahun ini.

 

Apabila disimpulkan kondisi di atas, dikenal dengan sebutan VUCA (Vulnerability, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yakni kondisi yang tidak menentu (V), tidak pasti (U), tidak mudah(C) serta tidak memiliki arah yang jelas (A); inilah yang menjadi tantangan kita semua. Namun, Jack Ma si Alibaba-man, memiliki strategi DAMO (Discover, Adventure, Momentum, Outlook) dalam mengatasi tantangan VUCA. DAMO ala Jack Ma diterjemahkan secara jelas oleh Bapak Hermawan Kartajaya dalam seminarnya, dimana kita harus bisa mengikuti perubahan sehingga bisa timbul ide baru  (D), lalu sifat adventuris yang bisa mencari jalan alternatif guna mendapatkan solusi yang tepat (A), kesempatan dalam membaca peluang disertai dengan melihat waktu yang tepat (M), dan lihatlah bisnis dari pandangan yang  lebih luas, jangan hanya melihat dari sisi yang mikro tapi harus secara keseluruhan (O).

Era 4.0

Pak Jokowi dalam salah satu rencana kerjanya akan fokus dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk mewujudkan Indonesia lebih maju. Pada tulisan kali ini, saya ingin mengambil startegi DAMO dalam membangun SDM yang lebih berkompeten dalam era 4.0

Disipline. Kedisiplinan menjadi salah satu kunci utama dalam membangun karaketer manusia, disiplin disini bukan hanya dari segi waktu tapi lebih disiplin dalam memberikan pemikiran yang strategis dan meng-eksekusikannya secara disiplin di lapangan.

Agile. Kecepatan memberikan solusi dan kelincahan melihat peluang perlu diterapkan dalam era 4.0; Apabila kita lambat, mungkin kompetitor anda yang memanfaatkan-nya atau bisa saja peluang tersebut tidak datang untuk kedua kalinya. Ada kalanya kita harus bergerak cepat tapi tetap penuh perhitungan.

Millennial minded. Karakter orang milenial haus akan tehnologi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan digital. Apabila kita mau bertahan, bersikaplah seperti orang milenial yang mengandalkan tehnologi dan media sosial dalam aktifitas hariannya.

Optimistic. Walaupun Indonesia masih dihantui ketidakpastiaan, serta ekonomi dunia yang masih belum stabil,  tapi rasa optimisme harus tetap ditanamkan, segala sesuatu harus dicerna secara positif. Berikan energi positif pada orang sekitar kita agar membuang jauh sikap pesimistis dan berani menyongsong tahun baru dengan penuh optimis.

Sukses untuk tahun 2020, selamat menjadi manusia 4.0 manusia DAMO

 

In Memoriam

Kehilangan seseorang yang kita cintai merupakan hal yang paling menyedihkan. Di akhir penghujung bulan Oktober, keluarga besar Tilaar dan Handana berduka atas dipanggilnya seorang suami, ayah, opa, saudara dan kerabat tercinta, Oom Alex Tilaar. Di usia nya yang sudah 87 tahun, Oom Alex boleh bisa tergolong cukup sehat karena baru di tahun 2019, Oom yang humoris ini mulai sakit; sebelumnya masih bisa jalan-jalan mendampingi sang istri dan keluarganya.

Bagi saya pribadi, cukup banyak kenangan yang indah bersama Oom Alex. Terutama kami berdua memiliki hobi yang sama yakni menonton sepakbola dan bulutangkis. Oom Alex selalu menelepon atau kalau bertemu dengan saya selalu bercerita dan membahas mengenai olahraga. Pernah impian kami berdua menjadi kenyataan. Oom Alex sempat bilang ke saya,” kapan-kapan kita pergi bareng ya Sam ke Inggris untuk menonton pertandingan sepakbola di stadium.” Dan akhirnya pada tahun 2011 kami berkesempatan pergi menonton pertandingan antara Arsenal vs Tottenham Hotspur di Emirates Stadium, London yang merupakan kandang dari Arsenal. Dan kamipun juga sempat berkunjung ke Old Trafford, Manchester walau saat kesana kami tidak sempat menyaksikan pertandingan sepakbola.

 

Turis (Turut Istri)

Selain dikenal seorang humoris, saya melihat si Oom cukup rendah hati, tidak pernah membangga-banggakan dirinya. Salah satu diantaranya bagaimana beliau mendukung kegiatan tante Martha, mulai dari mempersiapkan materi presentasi, membuatkan pidato bahkan Oom Alex melatih tante cara berbicara sebelum tampil di panggung. Mungkin banyak orang yang tidak tahu peran Oom Alex dibalik kesuksesan Ibu Martha Tilaar. Nah inilah kerendahan hati si Oom, dia tidak pernah merasa memainkan peran penting, tapi justru dengan bangganya si Oom bilang “saya kan hanya Turis (turut istri)”, seakan hanya mendompleng sang istri.

Kerendahan hati dan sifat humoris yang saya rasakan dari sosok seorang HAR Tilaar. Sudah pasti saya akan merindukan pembahasan mengenai dunia sepakbola bersama Oom.  Tapi saya percaya Oom Alex sudah bahagia bersama Bapa di surga; bahkan saya percaya Oom Alex sudah melihat stadium sepakbola yang jauh  lebih megah disana.

Selamat Jalan Oom Alex……

 

Man vs Woman

Hampir setiap pecinta olah raga, apabila ditanya cabang olahraga yang ditunggu untuk ditonton pasti jawabannya sepakbola. Apalagi kalau klub-klub papan atas di Liga Eropa bertanding, dan yang pasti kejuaraan Piala Dunia atau Piala Eropa antar negara yang berlangsung empat tahun sekali.

Tapi apakah hal itu sama dengan pertandingan sepakbola yang dimainkan oleh wanita? Apakah euforia sepakbola wanita sama dengan pria? Apakah pecinta sepakbola sangat antusias menanti-nantikan pertandingan sepakbola wanita? Mungkin jawabannya tidak atau belum tentu.

 

Man vs Woman

Mungkin tidak banyak diantara kita yang menyadari bahwa bulan Juni selama 1 bulan, tengah berlangsung Piala Dunia Wanita di Perancis, yang seharusnya selevel dengan Piala Dunia Pria, karena sama-sama memperebutkan piala tertinggi sepakbola antar negara.

Secara kenyataannya, tidak banyak yang merasakan kemeriahan pesta sepakbola wanita yang berlangsung di kota mode, Perancis. Dari segi pemberitaan, segi antusias untuk nonton bareng, bahkan dari segi aktivitas promo yang dilakukan oleh perusahan-perusahaan yang biasa menjadi langganan sponsor kejuaraan sepakbola tidaklah semeriah apabila dibandingkan dengan sepakbola pria.

Pria lawan wanita, apakah selalu ada perbedaan gender yang cukup tajam? Apakah prestasi wanita selalu dianggap masih lebih rendah dari pria? Atau wanita selalu ada dibayang-bayang kehebatan pria? Apakah kaum hawa identik dengan kaum yang sering dilecehkan kaum adam? Mungkin wanita memang lebih lemah dari pria, tapi bukan berarti kaum hawa harus dibawah dibandingkan pria.

SDG 2030

Beruntung United Nations atau dikenal dengan PBB memiliki tujuan untuk 2030 yang disebut SDGs (Sustainable Development Goals) 2030; di sana terdapat 17 goals (tujuan), salah satunya mengangkat persamaan gender antara pria dan wanita.

Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang, diharapkan pria dan wanita berdiri sejajar dan tidak ada lagi pelecahan terhadap wanita. Kaum perempuan harus memiliki persamaan hak dan kesempatan baik di bidang edukasi, lapangan pekerjaan dan jabatan di dalam perusahaan ataupun organisasi.

Sebenarnya di tahun ini pun di waktu yang hampir bersamaan, juga tengah berlangsung Piala Amerika dan Piala Afrika; tapi itupun tidak seheboh dengan Piala Dunia atau bahkan Piala Eropa. Apakah ini yang kita sebut diskriminasi? Benua Amerika dan Afrika boleh dikatakan benua yang tidak semaju dengan benua Eropa, masih banyak negara miskin di sana terutama negara-negara Amerika Latin dan Afrika. Padahal pemain top dunia seperti Lionnel Messi, Firminho, Mohammad Salah yang merupakan tulang punggung di klub Eropa bermain disana.

Semoga kedepannya perbedaan antar negara kaya atau miskin, maupun perbedaan gender semakin bisa diperkecil sehingga kejuaraan sepakbola pun bisa memiliki level yang sama baik dari segi promosi, komersial, dan hadiah yang diberikan.

Terlepas piala Amerika dan Afrika, saya sendiri cukup menikmati permainan para pesepakbola wanita dari segi tehnik, strategi dan keahlihan individu yang tidak kalah dengan pesepakbola pria. Selamat Alex Morgan dan tim sepakbola Amerika Serikat yang bisa mempertahankan gelar juara dunia.

 

Yuk Bangkit!

Rasanya tidak pernah bosan hampir setiap tanggal 20 Mei saya selalu ingin menulis tentang Hari Kebangkitan Nasional. Entah membicarakan mengenai kebangkitan merek Indonesia, kebangkitan olah raga Indonesia, sampai pada kebangkitan pemimpin negara.

Secara kebetulan pun, tahun lalu saya menulis artikel mengenai Good Leader yang membahas tentang hiruk pikuk Pilkada untuk menentukan pimpinan daerah; dan pada di tahun pun di bulan Mei tepatnya tanggal 22 besok lusa akan diumumkan siapa yang akan menang dan memimpin Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun mendatang.

Namun, sebagai warga negara Indonesia, saya sangat sedih melihat persaingan untuk mendapatkan tempat nomor 1 di Indonesia dicederai oleh berbagai unsur negatif bahkan sudah menjurus ke SARA. Setiap orang memang boleh berambisi dengan sesuatu yang akan dicapainya; akan tetapi harus didasarkan dengan jiwa terbuka dan mau menerima apapun hasilnya.

Kebangkitan Olahraga Indonesia

Di tengah situasi politik yang memanas, 1 hari sebelum hari Kebangkitan Nasional, kita mendapatkan kabar yang cukup menggembirakan; sprinter andalan Indonesia, Muhammad Zohri kembali mengharumkan nama Indonesia dengan berhasil menjadi pelari Indonesia yang bisa bertanding di ajang kejuaaran dunia dan olimpiade. Tak banyak atlet Indonesia yang bisa menembus persaingan di tingkat dunia.

Sama hal nya dengan tim bulutangkis Indonesia yang saat ini sedang bertanding dalam Sudirman Cup di China; kita semua berharap Indonesiabisa bangkit untuk bisa meraih piala beregu yang sudah lama tidak direbut. Terakhir kali Indonesia bisa merebut piala beregu di tahun 2002 untuk piala Thomas. Selama 19 tahun tak satupun gelar beregu dapat diraih oleh Indonesia bahkan 2 tahun lalu merupakan tahun prestasi terjelek bagi bulutangkis Indonesia yang tidak lolos ke babak selanjutnya di Piala Sudirman. Sedih memang, Indonesia yang sejak tahun 70 selalu mengukir prestasi di bulutangkis beregu seakan tidak berdaya di tengah persaingan yang semakin kompetitif.

Ayo Bangkit! Bangkit! Bangkit! Dan Bangkit lagi! Jangan ada kata menyerah. Seandainya Muhammad Zohri bisa membuat olah raga Indonesia bangkit, demikian pula untuk tim beregu bulutangkis harus nya bisa bangkit kembali. Menempati sebagai unggulan ketiga di Piala Sudirman bukan secara otomatis Indonesia bisa dengan mudahnya meraih impian untuk juara atau minimal masuk final, tapi Indonesia masih harus melewati rintangan yang cukup berat. Satu persatu pertandingan perlu dilewati, target pertama sudah pasti menjadi juara grup di penyisihan untuk mendapatkan tiket 8 besar, dengan status juara grup seharusnya Indonesia dalam babak 8 besar, bisa mendapatkan lawan dari grup lain yang relatif lebih mudah karena berstatus peringkat kedua, lalu lewat dari sana sudah pasti akan melawan raksasa dunia, yakni Tiongkok atau Jepang. Bisa lolos dari sana, tinggal 1 pertandingan untuk merebut kembali piala yang dirindukan. Ah itu memang baru impian………….tapi sebuah mimpi bisa jadi kenyataan.

Hal lain yang cukup membuat kita bangga, setelah sukses menyelenggarakan pesta olah raga terbesar se Asia tahun lalu, Indonesia juga memberanikan diri untuk mencalonkan menjadi tuan rumah olimpiade untuk talun 2032. Ini menandakan Kebangkitan Indonesia, dan Kebangkitan kita bersama untuk mensejajarkan posisi Indonesia di tingkat dunia.

Kebangkitan Politik Indonesia

Kebanggaan kita tidak terlepas melihat Indonesia bisa bangkit baik di dalam perekonomian, persaingan merek, olah raga dan yang terpenting bangkit untuk berubah dalam urusan politik yang tidak sehat.

Buanglah jauh-jauh pemikiran yang bisa memecah belah persatuan Indonesia, kita harus bangkit dan bersama-sama membangun Indonesia untuk bisa lebih bersaing dengan negara lain; karena lawan kita bukan di dalam tapi ada di luar sana. Ayo bersatulah para elit politik Indonesia!

Salam Kebangkitan Indonesia; Kebangkitan Kita Bersama!

 

Golput vs Golpung

2 hari menuju tanggal 17 April, 2 hari menuju Pemilihan Umum (Pemilu), 2 hari menuju pemilihan pemimpin yang akan membawa Indonesia dalam 5 tahun ke depan.

Setelah kurang lebih hampir 6 bulan ber kampanye; malam kemarin merupakan hari terakhir ber kampanye dengan diakhiri dengan debat ke 5 capres cawapres Pemilu 2019. Banyak janji, harapan serta impian yang dikemukakan dalam debat malam kemarin. Terkadang bersifat menyerang atau mengeritik, ada pula yang mempertahankan pendapatnya.

Hantu Pemilu

Dari tahun ke tahun Pemilu selalu dihantui oleh segelintir orang yang tidak mau menentukan pilihannya alias Golput. Entah kenapa mereka sampai tidak mau memilih, apakah calon-calon yang ada benar-benar tidak bisa mewakili kepentingan segelintir orang tadi? Atau mereka hanya ingin membuat suasana menjadi tidak kondusif? 

Menurut catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tercatat sampai hampir 25% di tahun 2014 yang tidak memilih atau tidak sah dalam memilih bahkan di tahun 2009 angka Golput bisa mendekati 30%. Apakah di tahun 2019 hantu Pemilu bisa semakin menurun atau bahkan bisa lebih tinggi dibandigkan tahun 2009?

Golput vs Golpung

Kita sebagai warga negara yang baik, yang masih tinggal di Indonesia, yang merasa menjadi warga Indonesia sudah sepantasnya kita mendukung Pemilu dengan cara memilih salah satu paslon. Walaupun mungkin tidak ada paslon yang 100% sesuai dengan hati nurani kita. Tapi demi negara Indonesia, kita wajib mendukung Pemilu dan bukan menjadi segelintir orang Golput yang tidak berani menentukan pilihannya.

Banyak hal yang kita bisa lakukan dalam mendukung Pemilu salah satunya sediakan waktu tanggal 17 April nanti untuk mencoblos paslon presiden & wakil serta wakil legislatif yang mempunyai kompetensi dalam membangun Indonesia ke depan.

Dalam dunia usaha pun dalam menyukseskan Pemilu, banyak perusahaan yang menawarkan promo menarik apabila bisa menunjukan jari yang sudah ada tanda resmi sudah mencoblos entah berupa potongan harga, produk gratis, beli 2 dapat 1, dan promo menarik lainnya. Walaupun banyak program promosi yang ditawarkan, tapi kita harapkan masyarakat bukan hanya mengejar benefit untuk pribadinya sendiri tapi benar-benar memilih secara jujur dan obyektif karena pilihan kita bisa menentukan Indonesia ke depannya.

Daripada kita menjadi segelintir orang yang tidak peduli, Golput, lebih baik kita menjadi Golpung, Golongan Pendukung. Tapi di sini bukan untuk mendukung salah satu paslon, karena kampanye sudah lewat; tapi lebih mendukung bagaimana masyarakat mau berpartisipasi dalam memilih pemimpin yang bisa membawa Indonesia menjadi negara yang lebih maju.

Yuk! Dalam masa tenang 2 hari ini, kita berkampanye untuk tidak menjadi Golput; tapi jadilah Golpung. 

 

Seorang Pemimpin

Awal bulan Maret saya berkesempatan mengunjungi kota Makasar, yang kita kenal sebagai ibukota Sulawesi Selatan. Adapun tujuan saya pergi ke Makasar selain ingin melihat kondisi pasar di sana, saya menghadiri rapat kerja nasional Indonesia Marketing Association (IMA), sebuah organisasi marketing yang didirikan oleh Bapak Hermawan Kartajaya 23 tahun yang lalu.

Selain menjadi anggota IMA, saya pun berperan sebagai pergurus dalam organisasi tersebut; dan saya  merasakan banyak manfaatnya bisa bergabung dalam IMA; salah satu diantaranya kita mengenal banyak orang, menambah wawasan baru dan bisa bertemu dengan para pimpinan pemerintah, mulai dari bupati, walikota, gubernur sampai ke tingkat menteri.

Bersama Pak Walikota

Dalam acara rakernas di Makasar pun, saya berkesempatan bertemu dengan Gubernur Sulawesi Selatan, Bapak Nurdin Abdullah dan sempat dijamu di rumah Walikota Makasar, Bapak Danny Pomanto. Suatu pengalaman yang sangat berharga tentunya. Terlepas bisa bertemu, pengalaman yang tidak bisa dilupakan saya bisa banyak belajar bagaimana cara mereka memimpin dan sikap kepemimpinannya dalam membangun propinsi dan kotanya.

Apa yang perlu kita lihat dari sikap seorang pemimpin?

Visionary: seorang pemimpin haruslah memiliki visi ke depan yang jelas untuk meningkatkan daya saing dan harus memiliki tujuan untuk menyejahterakan orang banyak.

Transparent & Trustworthy: seorang pemimpin harus bisa terbuka dalam segala tindakan yang dilakukan; tidak perlu ditutup tutupi. Dan yang terpenting seorang pemimpin harus bisa dipercaya.

Technology Savvy: perkembangan jaman pada umumnya diikuti oleh tehnologi. Seorang pemimpin harus bisa beradaptasi dengan kemajuan tehnologi, jangan menjadi pemimpin yang gaptek alias gagap tehnologi. Jangan sampai istilah “Unicorn” menjadi pembicaraan banyak orang setelah debat calon presiden kemarin.

Memiliki visi, bersikap terbuka dan dipercaya serta mengikuti perkembangan tehnologi yang saya lihat dari pemimpin kota Makasar tersebut. Di bulan depan kita harus memilih pemimpin yang tepat untuk kemajuan Indonesia.  Pilihlah sesuai dengan hati nurani kita masing-masing; bagi saya setidaknya ke 3 hal di atas, bisa dijadikan acuan kita dalam memilih pemimpin secara obyektif. Pemimpin yang mau kerja, kerja dan kerja bagi kemajuan Indonesia.

 

 

Cinta

Judul CINTA di atas bukan dikarenakan bulan Februari yang dikenal dengan hari kasih sayang. Namun secara kebetulan pada artikel kali ini, saya ingin menulis tentang bagaimana seseorang ingin melakukan perubahan dalam dirinya.

Dan setelah saya simpulkan tanpa sengaja bisa membuahkan kata CINTA yang pas dengan hari nya orang-orang yang sedang merayakan hari Valentine.

C: Change yourself. Lupakan ego dalam diri anda, ubahlah sikap yang kurang baik dalam diri anda, dengan cara berani untuk merubah untuk menjadi lebih baik.

I: Improve your skill. Tidak ada kata untuk berhenti untuk belajar; walaupun kita sudah memiliki sejumlah gelar, dan usia yang sudah semakin bertambah, tapi kita harus tetap mengasah kemampuan kita agar tidak tertinggal dengan kondisi jaman sekarang.

N: Never give up. Dalam setiap kehidupan pastilah ada pasang surut nya; namun seandainya kita gagal dalam suatu hal, janganlah cepat menyerah. Kita harus bangkit untuk menjadikan kegagalan menjadi kesuksesan.

T: Talk with your heart. Ada pepatah yang mengatakan lidah tak bertulang, perkataan kita bisa saja menyakiti seseorang. Berbicaralah dengan kata-kata yang baik sehingga tidak membuat lawan bicara anda tersakiti.

A: Align with others. Sebagai mahluk sosial , kita tidak bisa hidup sendiri. Kita harus bisa beradaptasi dengan orang lain sekitar kita. Jangan membuat permusuhan namun buatlah pertemanan. Kita tidak pernah tahu siapa tahu kita memerlukan mereka kedepannya.

ke- 5 hal di atas “CINTA” bisa kita coba untuk menjadikan pribadi yang lebih baik. Dan lakukan itu dengan sepenuh hati karena cinta, (dalam arti sebenarnya), memberikan arti dalam kehidupan manusia.

 

Mau Kemana PSSI ku?

Indonesia juara piala dunia?

Indonesia masuk ke piala dunia?

Indonesia bisa, Indonesia pasti bisa

 

Kata-kata di atas selalu membuat kita selalu bermimpi. Apakah mungkin olah raga yang paling digemari masyarakat di Indonesia bisa memberikan hasil yang maximal bagi negara tercinta.

Melihat sepak terjang prestasi sepakbola Indonesia tahun ini sebenarnya ada secercah harapan mulai dari Asian Games yang dari segi permainan, Indonesia harus nya bisa masuk minimal 4-8 besar di tingkat Asia; ditambah lagi tim yunior yang bisa menjadi juara tingkat ASEAN bahkan tinggal satu langkah lagi, tim muda Garuda bisa membawa mimpi Indonesia untuk ikut piala dunia tingkat yunior bisa tercapai.

Namun di bulan November, pesta sepakbola negara ASEAN yang dikenal dengan AFF Cup, membuat optimisme dan mimpi menjadi surut kembali. Indonesia tidak mampu lolos dari kualifikasi grup. Padahal kita semua berharap peluang untuk menjadi juara seharusnya terbuka lebar.

 

Campur Aduk

Entah siapa yang salah.  Banyak pihak yang mengatakan organisasi di PSSI harus perlu banyak dirubah, mulai dari ketua umum PSSI, organisasinya serta orang-orang yang berperan aktif di dalam lingkungan PSSI perlu dievaluasi. Memang sangat memalukan seorang pelatih internasional sampai tidak dibayar gajinya, sehingga kontrak nya pun enggan diperpanjang. Padahal melihat performa anak-anak Garuda di bawah kepelatihan, Luis Milla terlihat cukup menjajikan.

Kenapa negara2 ASEAN lain seperti Vietnam, dan sekarang Philippine sudah bisa menunjukkan taring nya? Vietnam bahkan sudah bisa juara AFF, sedangkan Indonesia yang sudah lebih dulu mengenal sepakbola belum pernah mencapai posisi puncak. Philippine pun tidak tanggung-tanggung, mereka mulai rajin melakukan naturalisasi pemain-pemain keturunan untuk diangkat menjadi pemain nasional nya, belum lagi Philippine berani mengontrak pelatih kelas dunia Sven Erickson.

Kita semua pasti sedih, prestasi tim nasional tidak mengarah ke perbaikan. Ada baiknya organisasi olahraga harus dikelola dengan benar, jangan selalu dijadikan alat politik. Negara lain bisa maju olah raga nya karena memang dikelola dengan baik dan profesional tanpa harus ada dicampuri urusan yang bukan untuk mendorong prestasi olahraga.

Pesan singkat saya dan mungkin sama seperti masyarakat pencinta sepakbola tanah air: kita harus berani mengorbankan ego pribadi, evaluasi apa yang perlu dikoreksi lalu lakukan tindakan perbaikan dengan sepenuh hati tanpa ada unsur lainnya. Karena saya percaya Indonesia mempunyai banyak talenta asalkan dikelola dengan benar.

Entah kapan mimpi di atas bisa benar-benar dapat terealisasi, yakni menjadi juara piala dunia, tapi setidaknya tahap demi tahap harus dilalui terlebih dahulu.

Keep Improving to make your dream comes true, PSSI ku